background

Sabtu, 05 September 2009

Hospitalisasi Pada Anak

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kesehatan merupakan hal yang harus dimiliki dan dipelihara dengan baik oleh setiap orang terutama oleh anak- anak. Kesehatan anak harus benar- benar diperhatikan karena akan menunjang terhadap perkembangan anak selanjutnya dimasa yang akan datang, memperhatikan kesehatan anak sejak dini akan menunjang terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak baik dari segi fisik maupun dari segi psikis.
Penyakit Hirschsprung merupakan gangguan perkembangan sistem saraf enterik dan ditandai dengan tidak ditemukannya sel ganglion pada colon bagian distal sehingga terjadi obstruksi fungsional.
Penyakit hirsprung adalah penyakit obstruksi usus fungsional akibat aganglionik meissner dan aurbach dalam lapisan dinding usus, mulai dari spingter ani internus kearah proksimal, 70- 80 % terbatas di daerah rectosigmoid, 10 % sampai seluruh kolon dan sekitar 5 % dapat mengenai seluruh usus sampai pilorus ( Arif Mansjoer, 2000: 380 ).
Penyakit hirsprung pertama kali dijelaskan oleh Ruysch pada tahun 1691 dan dipopulerkan oleh Hirschsprung pada tahun 1886, patofisiologinya belum diketahui hingga pertengahan abad ke 20, ketika Whitehouse dan Kernohan mendapatkan aganglionosis pada usus bagian distal sebagai penyebab obstruksi dalam laporan kasus pasien mereka. Pada tahun 1949, Swenson menjelaskan penatalaksanaan definitif Hirschsprung yaitu dengan rectosigmoidectomy dengan anastomosis colonal. Setelah itu diketahui jenis teknik operasi lainnya, termasuk teknik Duhamel dan Soave. Pada masa kini, adanya kemajuan pada teknik operasi, termasuk prosedur minimal invasif, dan diagnosis dini telah mengurangi mortalitas dan morbiditas pasien dengan penyakit Hirschsprung.
Menurut data dari medikal record Ruang Cempaka Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung bahwa jumlah penderita penyakit hirsprung adalah sebanyak 13 orang ( 29,5 % ) dari keseluruhan jumlah pasien yang di rawat di ruang Perawatan Anak ( Cempaka ). Persentase penyakit hirsprung merupakan peringkat terbanyak ke dua dari lima besar penyakit kongenital yang ada di Ruang Cempaka( Data Medikal Record Maret- Mei 2009 ).
Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk mengangkat judul karya tulis ini dengan judul ” ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. R dengan POST OP COLOSTOMY a/i STENOSIS ANI e/c HIRSPRUNG DISEASE”.
B. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut:
1. Tujuan umum
Penulis memperoleh pengalaman nyata dan mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada anak ”R” ( 6 tahun ) dengan gangguan sistem pencernaan ( penyakit hirsprung ) di ruang anak Cempaka Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung melalui pendekatan proses keperawatan dan menerapkan dasar- dasar ilmu yang didapat dengan praktek di lapangan dan mampu melaksanakan asuhan keperawatan secara komprehensif meliputi aspek bio, psiko, sosio dan spiritual pada klien dengan penyakit hirsprung.
2. Tujuan khusus
Mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada anak ”R” usia 6 tahun dengan penyakit hirsprung berdasarkan pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari:
a Melaksanakan pengkajian yang meliputi pengumpulan data dan analisa data pada anak ”R” dengan Hirschsprung
b Membuat perencanaan asuhan keperawatan yang akan diberikan pada anak ”R” dengan Hirschsprung
c Melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan perencanaan pada anak ”R” dengan Hirschsprung
d Mengevaluasi hasil tindakan keperawatan pada anak ”R” dengan Hirschsprung yang mengacu pada tujuan dan kriteria hasil
e Dapat mendokumentasikan hasil setiap langkah asuhan keperawatan pada anak ”R” dengan Hirschsprung
C. METODE PENULISAN DAN TEKHNIK PENGUMPULAN DATA
Metode penulisan yang dipergunakan oleh penulis dalam pembuatan karya tulis ini adalah metode deskriptif yaitu metode pencarian fakta dengan suatu interpretasi yang tepat melalui telaah analisa dalam bentuk asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien hirschsprung, adapun tekhnik pengumpulan data yang dilakukan yaitu:
1. Observasi yaitu melihat, menilai dan mengamati perkembangan klien dan prilaku keluarganya secara langsung.
2. Wawancara yaitu mengumpulkan data dengan cara mengajukan pertanyaan berkaitan dengan masalah kesehatan klien kepada keluarga dan klarifikasi kepada petugas kesehatan.
3. Pemeriksaan fisik yaitu memeriksa keadaan fisik anak melalui tekhnik inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi, sehingga didapatkan data yang objektif tentang kesehatan klien.
4. Study dokumentasi yaitu mengumpulkan data yang mempelajari data- data pada status kesehatan klien dan catatan yang berhubungan dengan askep dan informasi dari teman sejawat.
5. Study kepustakaan yaitu mengumpulkan materi- materi dengan cara menggunakan buku- buku sumber untuk mendapatkan landasan teori yang berkaitan dengan kasus yang dihadapi baik medis maupun keperawatannya melalui beberapa literatur.
D. SISTEMATIKA PENULISAN
Penulisan laporan study kasus ini terdiri dari empat bab dengan sistematika sebagai berikut:
BAB I: PENDAHULUAN, yang terdiri dari latar belakang, tujuan umum dan khusus, metode penulisan dan tekhnik pengumpulan data serta sistematika penulisan
BAB II: TINJAUAN TEORITIS, membahas mengenai konsep dasar penyakit hirschsprung, etiologi, anatomi fisiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan, dampak masalah terhadap perubahan struktur atau pola fungsi sistem tubuh, konsep dan pencapaian tumbuh kembang pada anak usia pre school,jenis alat permainan pada usia 6 tahun, karakteristik anak pada usia 6 tahun, hospitalisasi pada anak usia 6 tahun, tinjauan teoritis tentang asuhan keperawatan.
BAB III: TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN, berisi tentang asuhan keperawatan pada anak ”R” ( 6 tahun ) dengan hirschsprung yang meliputi: pengkajian, perencanaan, implementasi, evaluasi keperawatan dan catatan perkembangan serta pembahasan yaitu menguraikan hal- hal yang berkaitan dengan proses asuhan keperawatan dan membandingkan antara teori dari study kasus dengan kenyataan dalam praktek di lapangan.
BAB IV: KESIMPULAN DAN SARAN
Daftar pustaka
Lampiran















BAB II
TINJAUAN TEORITIS
I. Konsep Dasar
A. Konsep dasar penyakit
1. Pengertian
Hirschsprung atau Mega Colon adalah penyakit yang tidak adanya sel – sel ganglion dalam rectum atau bagian rektosigmoid Colon. Dan ketidak adaan ini menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya peristaltik serta tidak adanya evakuasi usus spontan ( Betz, Cecily & Sowden : 2000 ).
Penyakit Hirschsprung atau Mega Kolon adalah kelainan bawaan penyebab gangguan pasase usus tersering pada neonatus, dan kebanyakan terjadi pada bayi aterm dengan berat lahir  3 Kg, lebih banyak laki – laki dari pada perempuan. ( Arief Mansjoeer, 2000 ).
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa penyakit hirschsprung itu sendiri adalah kelaian congenital yang menyebabkan obstruksi usus sehingga sulit untuk mengeluarkan feses.
2. Etiologi
a. Keturunan karena penyakit ini merupakan penyakit bawaan sejak lahir
b. Factor lingkungan
c. Tidak adanya sel- sel ganglion dalam rectum atau bagian rektosigmoid kolon
d. Ketidakmampuan sfingter rectum berelaksasi
e. Adanya penimbunan mekonium dikolon
3. Anatomi fisiologi system pencernaan
a. Rongga mulut adalah pintu masuk saluran pencernaan, didalamnya terdapat palatum, pipi dan bibir, lidah, gigi dan kelenjar ludah.
b. Tekak ( faring ) adalah organ yang menghubungkan rongga mulut dengan esophagus ( kerongkongan ).
c. Esophagus ( kerongkongan ) adalah tabung yang menghubungkan rongga mulut dengan lambung yang letaknya dibelakang trachea yang berukuran panjang ± 20 – 25 cm dan lebar 2 cm.
d. Lambung ( gaster ) merupakan bagian dari saluran yang dapat mengembang paling banyak terutama didaerah epigaster.
e. Duodenum ( usu halus ) adalah tempat berlangsungnya sebagian besar pencernaan dan penyerapan.
f. Yeyunum ( usu kosong ) menempati dua perlima sebelah atas dari usus halus yang selebihnya.
g. Ileum ( usus penyerapan )
h. Colon
1) Asenden ( naik ), panjangnya 13 cm, terletak dibawah abdomen sebelah kanan, membujur keatas dari ileum kebawah hati. Dibawah hati melengkung kekiri, lengkungan ini disebut fleksura hepatica.
2) Transversum (horizontal), panjangnya ± 38 cm, membujur dari kolon asenden sampai ke kolon desenden berada dibawah abdomen, sebelah kanan terdapat fleksura hepatica dan sebelah kiri terdapat fleksura lienalis
3) Desenden ( menurun ), panjangnya ± 25 cm terletak dibawah abdomen bagian kiri membujur dari atas ke bawah dan fleksura lienalis sampai kedepan ileum kiri bersambung dengan kolon sigmoid.
i. Rectum (anus), saluran yang panjangnya ± 10 cm terbawah dari usus tebal dimulai pada kolon sigmoid dan berakhir pada saluran anal yang kira- kira 3 cm panjangnya.





Gambar 2.1
Anatomi Sistem Pencernaan

Sumber: Usyakarya.blogspot.com/2007 12 01 archive.html.



Gambar 2.2
Kelainan kolon pada hirschsprung

Sumber: www.healthmad.com/children/constipation-in-ch.

4. Patofisiologi
Istilah congenital aganglionic Mega Colon menggambarkan adanya kerusakan primer dengan tidak adanya sel ganglion pada dinding sub mukosa kolon distal. Segmen aganglionic hampir selalu ada dalam rectum dan bagian proksimal pada usus besar. Ketidakadaan ini menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya gerakan tenaga pendorong ( peristaltik ) dan tidak adanya evakuasi usus spontan serta spinkter rectum tidak dapat berelaksasi sehingga mencegah keluarnya feses secara normal yang menyebabkan adanya akumulasi pada usus dan distensi pada saluran cerna. Bagian proksimal sampai pada bagian yang rusak pada Mega Colon ( Betz, Cecily & Sowden, 2002:197).
Semua ganglion pada intramural plexus dalam usus berguna untuk kontrol kontraksi dan relaksasi peristaltik secara normal.
Isi usus mendorong ke segmen aganglionik dan feses terkumpul didaerah tersebut, menyebabkan terdilatasinya bagian usus yang proksimal terhadap daerah itu karena terjadi obstruksi dan menyebabkan dibagian Colon tersebut melebar ( Price, S & Wilson, 1995 : 141 ).
5. Manifestasi Klinis
a. Masa neonatal
1) Gagal mengeluarkan mekonium dalam 24 – 48 jam setelah lahir.
2) Muntah berwarna empedu.
3) Menolak untuk minum.
4) Distensi abdomen.
b. Masa bayi dan anak- anak
1) Konstipasi.
2) Diare berulang dan muntah,
3) Tinja seperti pita, berbau busuk dan menyengat seperti karbon.
4) Distensi abdomen.
5) Gagal tumbuh.
6) Ketidakmampuan menambah berat badan.
7) Masa fekal dapat teraba
6. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan dengan barium enema, dengan pemeriksaan ini akan bisa ditemukan :
1) Daerah transisi
2) Gambaran kontraksi usus yang tidak teratur di bagian usus yang menyempit
3) Entrokolitis padasegmen yang melebar
4) Terdapat retensi barium setelah 24 – 48 jam ( Darmawan K, 2004 : 17 )
b. Biopsi isap yaitu mengambil mukosa dan sub mukosa dengan alat penghisap dan mencari sel ganglion pada daerah sub mukosa ( Darmawan K, 2004 :17 ).
c. Biopsi otot rectum yaitu pengambilan lapisan otot rectum.
d. Periksaan aktivitas enzim asetil kolin esterase dari hasil biobsi isap pada penyakit ini khas terdapat peningkatan, aktifitas enzimasetil kolin esterase ( Darmawan K, 2004 : 17 )
e. Pemeriksaan aktivitas norepinefrin dari jaringan biopsi usus ( Betz, cecily & Sowden, 2002 : 197 )
f. Pemeriksaan colok anus
Pada pemeriksaan ini jari akan merasakan jepitan dan pada waktu tinja yang menyemprot. Pemeriksaan ini untuk mengetahu bahu dari tinja, kotoran yang menumpuk dan menyumbat pada usus di bagian bawah dan akan terjadi pembusukan.
7. Penatalaksanaan
a. Medis
1) Kolostomi dan ileostomi
a) Pengertian kolostomy
Kolostomy adalah Sebuah lubang buatan yang dibuat oleh dokter ahli bedah pada dinding abdomen untuk mengeluarkan feses (M. Bouwhuizen, 2000). Kolostomy adalah Pembuatan lubang sementara atau permanen dari usus besar melalui dinding perut untuk mengeluarkan feses (Randy, 1999). Kolostomy adalah Lubang yang dibuat melalui dinding abdomen ke dalam kolon iliaka untuk mengeluarkan feses (Evelyn, 1991, Pearce, 1993).
b) Jenis- jenis kolostomy
(1) Kolostomi Permanen
Pembuatan kolostomi permanen biasanya dilakukan apabila pasien sudah tidak memungkinkan untuk defekasi secara normal karena adanya keganasan, perlengketan, atau pengangkatan kolon sigmoid atau rectum sehingga tidak memungkinkan feses melalui anus. Kolostomi permanen biasanya berupa kolostomi single barrel ( dengan satu ujung lubang).
(2) Kolostomy temporer atau sementara
Pembuatan kolostomy biasanya untuk tujuan dekompresi kolon atau untuk mengalirkan feses sementara dan kemudian kolon akan dikembalikan seperti semula dan abdomen ditutup kembali. Kolostomy temporer ini mempunyai dua ujung lubang yang dikeluarkan melalui abdomen yang disebut kolostomy double barell. Lubang kolostomy yang muncul dipermukaan abdomen berupa mukosa kemerahan yang disebut stoma.
c) Komplikasi kolostomy
(1) Obstruksi/ penyumbatan
Penyumbatan dapat disebabkan oleh adanya perlengketan usus atau adanya pengerasan feses yang sulit dikeluarkan. Untuk menghindari terjadinya sumbatan, pasien perlu dilakukan irigasi kolostomi secara teratur. Pada pasien dengan kolostomi permanen tindakan irigasi ini perlu diajarkan agar pasien dapat melakukannya sendiri di kamar mandi.
(2) Infeksi
Kontaminasi feses merupakan factor yang paling sering menjadi penyebab terjadinya infeksi pada luka sekitar stoma. Oleh karena itu pemantauan yang terus menerus sangat diperlukan dan tindakan segera mengganti balutan luka dan mengganti kantong kolstomi sangat bermakna untuk mencegah infeksi.
(3) Retraksi stoma/ mengkerut
Stoma mengalami pengikatan karena kantong kolostomi yang terlalu sempit dan juga karena adanya jaringan scar yang terbentuk disekitar stoma yang mengalami pengkerutan.
(4) Prolaps pada stoma
Terjadi karena kelemahan otot abdomen atau karena fiksasi struktur penyokong stoma yang kurang adekuat pada saat pembedahan.
(5) Stenosis
Penyempitan dari lumen stoma
(6) Perdarahan stoma
2) Tindakan pembedahan koreksi :
a) Swenson's Sigmoidectomy
b) Duhamel's Retro Rectal Pull Through
c) Soave's Endo Rectal Pull Through
3) Penutupan kolostomi
b. Penanganan operatif
Penanganan operatif Hirschsprung dimulai dengan diagnosis dini, yang biasanya membutuhkan biopsi rektal full-thickness. Pada umumnya, penatalaksanaan awal yaitu dengan membuat colostomy dan ketika anak bertumbuh dan memiliki berat lebih dari 10kg, operasi definitif dapat dilakukan.
Akan tetapi, dengan kemajuan anastesia yang lebih aman dan monitoring hemodinamika yang lebih maju, prosedur penarikan tanpa membuat colostomy semakin sering digunakan. Kontraindikasi untuk prosedur tunggal ini adalah dilatasi maksimal usus bagian proksimal, entercolitis berat, perforasi, malnutrisi, dan ketidakmampuan menentukan zona transisional secara akurat.
Untuk neonatus yang pertama kali ditangani dengan colostomy, mulanya zona transisi diidentifikasi dan colostomy dilakukan pada bagian proksimal area ini. Keberadaan sel ganglion pada lokasi colostomy harus dikonfirmasi dengan biopsi frozen-section. Baik loop atau end-stoma dapat dikerjakan, biasanya tergantung dari preferensi ahli bedah.
Beberapa prosedur definitif telah digunakan, kesemuanya telah memberikan hasil yang sempurna jika dilakukan oleh ahli bedah yang berpengalaman. 3 jenis teknik yang sering digunakan adalah prosedur Swenson, Duhamel, dan Soave. Apapun teknik yang dilakukan, pembersihan kolon sebelum operasi definitif sangat penting.
(1) Prosedur Swenson, Prosedur Swenson merupakan teknik definitif pertama yang digunakan untuk menangani penyakit Hirschsprung, Segmen aganglionik direseksi hingga kolon sigmoid kemudian anastomosis oblique dilakukan antara kolon normal dengan rektum bagian distal
(2) Prosedur Duhamel: Prosedur Duhamel pertama kali diperkenalkan pada tahun 1956 sebagai modifikasi prosedur Swenson, Poin utamanya adalah pendekatan retrorektal digunakan dan beberapa bagian rektum yang aganglionik dipertahankan, Usus aganglionik direseksi hingga ke bagian rektum dan rektum dijahit. Usus bagian proksimal kemudian diposisikan pada ruang retrorektal (diantara rektum dan sakrum), kemudian end-to-side anastomosis dilakukan pada rektum yang tersisa
(3) Prosedur Soave : Prosedur Soave diperkenalkan pada tahun 1960, intinya adalah membuang mukosa dan submukosa dari rektum dan menarik usus ganglionik ke arah ujung muskuler rektum aganglionik. Awalnya, operasi ini tidak termasuk anastomosis formal, tergantung dari pembentukan jaringan parut antara segmen yang ditarik dan usus yang aganglionik. Prosedur ini kemudian dimodifikasi oleh Boley dengan membuat anastomosis primer pada anus.
8. Dampak masalah terhadap perubahan struktur atau pola fungsi sistem tubuh adalah:
a. Obstruksi usus
b. Konstipasi
c. Ketidak seimbangan cairan dan elektrolit
d. Entrokolitis
e. Struktur anal dan inkontinensial ( pos operasi ) ( Betz cecily & sowden, 2002 : 197 ).
B. Konsep Tumbuh Kembang Anak
1. Pertumbuhan dan perkembangan anak pada usia pre shool
Pada pertumbuhan masa pra sekolah pada anak pertumbuhan fisik khususnya berat badan mengalami kenaikan rata- rata pertahunnya adalah 2 kg, kelihatan kurus akan tetapi aktivitas motorik tinggi, dimana sistem tubuh sudah mencapai kematangan seperti berjalan, melompat dan lain- lain. Pada pertumbuhan khususnya ukuran tinggi badan anak akan bertambah rata- rata 6, 75- 7,5 cm setiap tahunnya.
Pada masa ini anak mengalami proses perubahan dalam pola makan dimana anak pada umumnya mengalami kesulitan untuk makan. Proses eliminasi pada anak sudah menunjukan proses kemandirian dan masa ini adalah masa dimana perkembangan kognitif sudah mulai menunjukan perkembangan dan anak sudah mempersiapkan diri untuk memasuki sekolah dan tampak sekali kemampuan anak belum mampu menilai sesuatu berdasarkan apa yang mereka lihat dan anak membutuhkan pengalaman belajar dengan lingkungan dan orang tuanya. Sedangkan perkembangan psikososial pada anak sudah menunjukan adanya rasa inisiatif, konsep diri yang positif serta mampu mengidentifikasi identitas dirinya.
Perkembangan Motorik, Bahasa, dan adaptasi sosial
Pada perkembangan motorik kasar diawali dengan kemampuan untuk berdiri dengan satu kaki 1-5 detik, melompat dengan satu kaki, berjalan dengan tumit kejari kaki, menjelajah, membuat posisi merangkak, dan berjalan dengan bantuan.
Perkembangan motorik halus mulai memiliki kemampuan menggoyangkan jari- jari kaki, menggambar dua atau tiga bagian, memilih garis yang lebih panjang, menggambar orang, melepas objek dengan jari lurus, mampu menjepit benda, melambaikan tangan, menggunakan tangannya untuk bermain, menempatkan objek kedalam wadah, makan sendiri, minum dari cangkir dengan bantuan, menggunakan sendok dengan bantuan, makan dengan jari dan membuat coretan diatas kertas.
Pada perkembangan bahasa diawali mampu menyebutkan hingga empat gambar, menyebutkan satu hingga dua warna, menyebutkan kegunaan benda, menghitung, mengartikan dua kata, mengerti empat kata depan, mengerti beberapa kata sifat dan sebagainya, menggunakan bunyi untuk mengidentifikasi objek, orang dan aktivitas, menirukan beberapa bunyi kata, memahami arti larangan, berespon terhadap panggilan dan orang- orang anggota keluarga dekat.
Perkembangan adaptasi sosial dapat bermain dengan permaianan sederhana, menangis jika dimarahi, membuat permintaan sederhana dengan gaya tubuh, menunjukan peningkatan kecemasan terhadap perpisahan, mengenali anggota keluarga.
2. Jenis alat permainan usai pre shool adalah:
Pada usia 3- 6 tahun anak sudah mulai mampu mengembangkan kreativitasnya dan sosialisasi sehingga sangat diperlukan permaian yang dapat mengembangkan kemampuan menyamakan dan membedakan, kemampuan berbahasa, mengembangkan kecerdasan, menumbuhkan sportifitas, mengembangkan koordinasi motorik, mengembangkan dalam mengontrol emosi, motorik kasar dan halus, memperkenalkan pengertian yang bersifat ilmu pengetahuan dan memperkenalkan suasana kompetisi serta gotong royong.
Sehingga jenis permainan yang dapat digunakan pada anak usia ini seperti benda- benda sekitar rumah, buku gambar, majalah anak- anak, alat gambar, kertas untuk belajar melipat, gunting dan air.
3. Karakteristik anak pada usia preschool
Karakteristik anak umumnya menunjukan:
a. Perkembangan fisik, anak sangat aktif melakukan berbagai kegiatan, yang sangat bermanfaat untuk pengembangan otot-otot kecil maupun besar.
b. Perkembangan bahasa, sudah mampu memahami pembicaraan orang lain dan mampu mengungkapkan pikirannya dalam batas-batas tertentu.
c. Perkembangan kognitif ( daya fikir ) sangat pesat, ditunjukan dengan rasa ingin tahu anak yang luar biasa terhadap lingkungan sekitar.
C. Hospitalisasi pada anak usia pre school
Suatu proses karena suatu alasan darurat atau berencana mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangan kembali kerumah. Selama proses tersebut bukan saja anak tetapi orang tua juga mengalami kebiasaan yang asing, lingkungannya yang asing, orang tua yang kurang mendapat dukungan emosi akan menunjukkan rasa cemas. Rasa cemas pada orang tua akan membuat stress anak meningkat. Dengan demikian asuhan keperawatan tidak hanya terfokus pada anak terapi juga pada orang tuanya.
Masa prasekolah ( 3 sampai 6 tahun ) biasanya: menolak makan, sering bertanya, menangis perlahan,tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan.
II. Tinjauan Teoritis tentang Asuhan Keperawatan
A. Pengkajian
1. Lakukan pengkajian fisik rutin
2. Dapatkan riwayat kesehatan dengancermat terutama yang berhubungan dengan pola defekasi
3. Kaji status hudrasi dan nutrisi rutin
4. Ukur lingkar abdomen
5. Observasi manifestasi penyakit hirschsprung:
a. Konstipasi
b. Feses berbau menyengat dan seperti karbon
c. Distensi abdomen
d. Masa fekal dapat teraba
e. Anak biasanya mempunyai nafsu makan dan pertumbuhan yang buruk












B. Tinjauan teoritis tentang asuhan keperawatan
Tabel 2.1
Tinjauan teoritis tentang asuhan keperawatan
No DX Tujuan Intervensi Rasional
1 Resiko tinggi cedera b.d prosedur bedah, anestesia
Anak dipindahkan ke tempat tidur tanpa cedera dengan stress minimum.
Tempatkan anak ditempat tidur dengan menggunakan tehnik yang tepat untuk tipe pembedahan


untuk mencegah cedera
Gantungkan alat IV dan sambungkan alat yang diperlukan
Tempatkan pada posisi yang nyaman dan nyaman yang sesuai dengan instruksi bedah
Anak tidakmenunjukan bukti- bukti infeksi luka.
Gunakan tehnik mencuci tangan yang yepat dan kewaspadaan universal lain, terutama bila terdapat drainase luka untuk mencegah infeksi
Lakukan perawatan luka dengan hati- hati Untuk meminimalkan resiko infeksi
Jaga agar luka bersih dan balutan utuh Untuk meningkatkan penyembuhan luka
Berikan larutan antimikrobal / salepsesuai dengan intruksi Berikan larutan antimikrobal / salepsesuai dengan intruksi
Laporka adanya tampilan tak umum atau drainase Untuk deteksi dini adanya infeksi
Tempatkan popok dibawah balutan abdomen Untuk mencegah kontaminasi
Bila anakmulai makan peroral berikan diet bergizi untuk meningkatkan penyembuhan luka
Anak tidak menunjukkan komplikasi Ambulasi sesuai dengan ketentuan Untuk menurunkan komplikasi
Pertahankan agar anak tetap puasa sampai ia sadar Untuk mencegah aspirasi
Beri tahu praktisi bila tidak dapat berkemih Untuk menjamin intervensi yang tepat
2 Cemas/b.d pembedahanlingkungan asing, perpisahan dari sistem pendukung dan ketidak nyamanan
Anak istirahat dengan tenang dan anakmendiskusikan prosedur dan aktivitas tanpa bukti kecemasan Pertahankan sikapyang tenang dan meyakinkan Untuk memudahkan koping
Dorong ekspresi perasaan
Jelaskan prosedur dan aktivitas lain sebelum memulai
Jawab pertanyaan dan jelaskan aktivitas
Tetap menginformasikan kemajuan
Tetap bersama anak sebanyak mungkin
Dorong keberadaan ortu segera setelah diizinkan Untuk menurunkan stress perubahan
3 Nyeri b.d insisi bedah
Anak beristirahat tenang, dan menunjukkan bukti- bukti nyeri yang minimal atau tidak ada Jangan menunggu sampai anak mengalami nyeri hebat untuk mengintervensi Untuk mencegah terjadinya nyeri
Hindari mempalpasi area operasi jika diperlukan
Pasang selang rektal jika diindikasikan Untuk menghilangkan gas
Dorong untuk berkemih, bila tepat Untuk mencegah distensi kandung kemih
Berikan perawatan mulut Untuk memberi kenyamanan
Lumasi lubang hidung Untuk menurunkan iritasi
Beri analgitik sesuai ketentuan Untuk nyeri
Beri antiemetik sesuai instruksi Untuk mual dan muntah
4 Resiko tinggi kekurangan volume cairan b.d status puasa sebelum/sesudah pembedahan, kehilangan nafsu makan, muntah Anak tidak menunjukkan dehidrasi dan anak menggunakan dan mempertahankan cairan bila diijinkan Pantau infus IV pada kecepatan yang ditentukan

Untuk memastikan hidrasi yang adekuat
Berikan caioran segera setelah diinstruksikan
Dorong anak untuk minum
4 Resiko tinggi infeksi b.d kondisi yang lemah, adanya organisme infeksius Paru- paru tetap bersih Kaji kebutuhan terhadap obat nyeri sebelum terapi pernafasan Untuk meminimalkan nyeri
Bantu untuk membalik dan nafas dalam
Bebat sisi operasi dengan tangan atau bantal bila mungkin sebelum batuk
Bantu pada penggunaan spirometer insentif atau tiupan botol Untuk meningkatkan kedalaman ventilasi
5 Perubahan proses keluarga b.d krisis situasi ( kedaruratan proses hospitalisasi anak), kurang pengetahuan Keluarga mendiskusikan kondisi anak dan therapynya dengan nyaman Jelaskan semua prosedur Untuk menurunkan ketakutan
Keluarga mendemonstrasikan kesadaran tentang kemajuan anak Pertahankan agar keluarga tetap mendapat onformasi tentang kemajuan anaknya
Dorong ekspresi perasaan Untuk memudahkan koping
Rujuk pada perawat kesmas bila diindikasikan Untuk perawatan tindaklanjut

BAB III
TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN
A. PENGKAJIAN
Tanggal masuk rumah sakit : 23 April 2009
Ruangan : Cempaka, Kamar VI
No. Medrek : 0000609623
Diagnosa Medis : Post Op Colostomy a/i Stenosis Ani e/c Hirsprung Disease
I. IDENTITAS
a. IDENTITAS KLIEN
Nama : An. R
Nama panggilan : Ndi
Tempat Tanggal Lahir : Bandung, 28 April 2003
Bahasa yang di gunakan : Bahasa Sunda :
Jenis kelamin : Laki- laki
Agama : Islam
Suku Bangsa : Sunda
Pendidikan : Belum Sekolah
b. IDENTITAS PENANGGUNG JAWAB
Ibu Ayah
Nama : Ny. O Tn. M
Umur : 48 tahun 47 tahun
Pendidikan : SD SD
Pekerjaan : Buruh Buruh
Agama : Islam Islam
Suku Bangsa : Sunda Sunda
Alamat : Kp. Caringin Rt 02 Rw 08 Cibiru, Cisurupan Kab. Bandung.
II. Keluhan utama
Klien mengeluh nyeri di daerah abdomen kuadran kiri atas.
III. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pada tanggal 23 April 2009 klien mengeluh perutnya kembung serta nyeri didaerah abdomen, di rumah klien hanya di beri minyak kayu putih dan ibunya selalu memberi pepaya supaya klien bisa bab tetapi klien tetap saja tidak bisa bab dan akhirnya bapak klien menganjurkan ibu klien untuk membawa klien ke puskesmas tetapi dari puskesmas klien tidak diberi tindakan keperawatan apa-apa hanya di pegang perutnya saja, dan akhirnya klien langsung di rujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, dan klien langsung di bawa berobat oleh ibunya ke poli bedah anak, karena keadaan klien selalu menangis dan klien sudah tidak tahan menahan nyerinya dan akhirnya klien dirujuk ke ruangan cempaka melalui pendaftaran di UGD dan di cempaka klien langsung di infus dengan cairan infusan NaCl 0,9 % 14 gtt/mnt.
Sebelum klien di operasi klien di lakukan perawatan pullthrough dengan cara memberi betadin keanus klien dengan di semprot menggunakan spuit 10cc dan klien diberikan perawatan selama 2 minggu, dan akhirnya klien mendapatkan jadwal untuk dioperasi pada hari selasa tanggal 12 Mei 2009.
Pada tanggal 18 Mei 2009 jam 08.20 WIB pada saat klien di kaji klien masih mengeluh nyeri didaerah abdomennya serta klien selalu menangis dan selalu memegang perutnya, nyeri akan timbul apabila klien di ganti kantong kolostomy dan dibersihkan stomanya pada pagi hari, siang hari maupun malam hari, tetapi nyeri akan hilang apabila klien beristirahat misalnya tidur, skala nyeri yang di rasakan oleh klien 3 ( tiga ).
IV. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
a. Prenatal
Ibu klien ketika hamil disuntik TT 2x, dan selalu diperiksa ke puskesmas setiap 1 bulan sekali, selama hamil ibu klien tidak ada riwayat penyakit yang memperberat kehamilan klien misalnya penyakit hipertensi dan ibu klien tidak mengalami morning sickness tetapi apabila ibu klien sakit misalnya batuk atau infleunza ibu klien suka minum obat warung tetapi ibu klien tidak menyebutkan nama obatnya dan tanpa resep dokter. Dan kadang- kadang ibu klien suka minum jamu apabila ibu klien merasa pegal dan merasa lelah.
b. Natal
Ibu klien mengatakan saat melahirkan usia kehamilannya cukup bulan, ibu klien lahir dirumah dan ditolong oleh paraji lahir normal, spontan dan klien langsung menangis.
c. Post Natal
Setelah lahir klien menangis kuat, mekonium keluar setelah 2 jam klien lahir, berat badan lahir 2 kg dan panjang badan klien 52 cm.
d. Neonatus
Pada saat lahir klien menangis spontan, berat badan lahir 2000gr.
V. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Pada tahun 2006 klien di bawa ke Rumah Sakit Al- Islam Bandung dengan keluhan klien susah bab dan klien di sana dirawat selama tujuh hari, kemudian klien di lakukan operasi pembuatan kolostomy dan selama klien dirawat di Rumah Sakit Al- Islam klien diberi obat injeksi sebanyak tiga macam tetapi ibu klien tidak menyebutkan nama obatnya karena lupa.
Pada tahun 2007 klien dioperasi lagi yaitu operasi penutupan colostomy di Rumah Sakit Pindad Bandung dan klien dirawat selama 6 hari, selama klien dirawat di Rumah Sakit Pindad klien di beri obat injeksi juga tetapi ibu klien tidak menyebutkan jumlahnya karena ibu klien lupa lagi.
Pada tahun 2008 klien dioperasi lagi di Rumah Sakit Hasan Sadikin yaitu operasi pembuatan anus dan dirawat selama 6 hari tetapi ibu klien tidak menyebutkan nama obat karena ibu klien lupa nama obatnya.
VI. Riwayat Imunisasi
Klien di imunisasi lengkap yaitu: Bcg, Dpt I, II, III, Campak I, II, III, Polio I, II, III, IV dan Hepatitis B I, II, III. Dan klien selalu di imunisasi sesuai dengan jadwal posyandu.
VII. Riwayat Kesehatan Keluarga
Menurut penuturan Ibu klien dikeluarganya baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu klien serta kakak- kakak klien tidak ada yang menderita penyakit hirsprung serta kelainan bawaan lainnya pun seperti seperti bibir sumbing dan hidrosepalus tidak ada. Di keluarga klien juga tidak ada yang menderita sakit berat ataupun penyakit kronis seperti TBC, DM, Asma dan Hepatitis.
VIII. Genogram ( 3 generasi )








Keterangan :
: Perempuan
: Laki - Laki
: Menunjukan klien
: Ikatan Suami Istri
: Anak
Klien anak ke enam dari enam bersaudara dan di keluarga klien tidak ada yang mempunyai penyakit yang sama dengan klien.

IX. Aspek Psikososial
Menurut penuturan ibu klien, klien suka bermain dengan teman- temannya meskipun klien pendiam dan pemalu tetapi klien senang bergaul dengan teman sebayanya dan klien mempunyai banyak teman.
X. Kebutuhan dasar
a. Nutrisi dan Cairan
Menurut penuturan ibu klien sebelum sakit klien makan 3x sehari ( nasi, ayam, dan tahu ) tetapi ketika klien sedang sakit klien jadi susah makan karena nafsu makan berkurang, klien selalu mual serta pada saat di kaji klien sudah muntah sebanyak dua kali, muntah klien cair, berwarna hijau serta jumlahnya sekitar 300cc.
b. Pola Tidur
Menurut penuturan ibu klien sebelum sakit klien tidak pernah tidur siang tetapi kalau tidur malam biasanya klien mulai tidur dari jam 19.00 sampai jam 06.00 WIB dan klien biasanya tidur sendiri dan tidak perlu dikelonin tetapi pada malam hari klien kadang suka terbangun satu kali untuk minta minum. Ketika klien sedang sakit klien suka tidur siang dan tidur malam tetapi waktunya tidak tentu, ketika tidur disamping klien harus ditemani oleh ibunya dan klien sering sekali terbangun karena klien merasa nyeri dan kadang ibu klien mengganti kantong kolostomy.
c. Personal Hygiene
1. Mandi
Menurut penuturan ibu klien sebelum sakit klien mandi 2x sehari ( pagi dan sore ) menggunakan air dingin dan memakai sabun mandi, tetapi ketika klien sedang sakit klien mandi hanya 1x pada pagi hari saja dan menggunakan air hangat dan tidak memakai sabun mandi dengan cara di spon atau di lap.
2. Oral hygiene
Menurut penuturan ibu klien sebelum sakit klien gosok gigi 2x sehari dan sehabis mandi menggunakan sikat gigi dan memakai pasta gigi, tetapi ketika klien sedang sakit klien tidak pernah gosok gigi dengan alasan ibu klien tidak membawa sikat gigi dan pasta gigi.
3. Berpakaian
Menurut penuturan ibu klien sebelum sakit klien ganti pakaian 2x sehari, tetapi ketika di rumah sakit klien berpakaian kurang rapi dan hanya memakai baju pendek dan celana dalam saja dan klien ganti pakaian hanya 1x sehabis mandi.
4. Cuci Rambut atau keramas
Menurut penuturan ibu klien sebelum sakit klien cuci rambut atau keramas 1x dalam 2 hari dan memakai shampo, tetapi ketika klien sedang sakit klien belum pernah cuci rambut atau keramas.
d. Aktivitas
Menurut penuturan ibu klien aktivitas klien di rumahnya suka mengaji dan suka bermain dengan anak- anak sebayanya.
e. Pola Eliminasi
1. BAB
Menurut penuturan ibu klien sebelum sakit klien BAB di rumah 1x sehari tetapi hanya sedikit, konsistensinya lembek dan baunya khas serta warnanya kuning. Ketika sakit klien BAB 3x sehari dan konsistensinya cair serta warnanya kuning, feses dibersihkan dengan kassa lembab dan biasanya habis 4 kassa lembab dan 2 kassa kering.
2. BAK
Menurut penuturan ibu klien sebelum sakit klien BAK lancar 4-5x sehari, jumlahnya 600-900cc, warnanya kuning jernih. Dan ketika sedang sakit pun klien BAK lancar 3-4x sehari, jumlahnya 600- 800cc, warnanya kuning jernih dan tidak ada keluhan.

f. Kebiasaan lain
Menurut penuturan ibu klien klien tidak mempunyai kebiasaan lain selain mengaji dan bermin dengan teman- temannya.
XI. Pengkajian Fisik
Keadaan Umum : Klien lemah dan rewel
Kesadaran : Compos mentis, GCS 15
Tanda- tanda vital : TD : 100/70 mmHg
R : 26x/ menit
N : 92x/ menit
S : 37,0 C
Pemeriksaan Antropometri : BB: 13 kg
TB: 117 cm
Pemeriksaan Fisik
a. Kulit
Turgor baik, kelembaban kering, suhu kulit hangat.
b. Kepala
Bentuk kepala simetris, rambut lengket, warna rambut hitam, distribusi rambut merata, fontanel anterior dan posterior sudah tidak tampak, tidak terdapat lesi maupun benjolan serta tidak ada nyeri tekan pada daerah kepala.
c. Mata
Bentuk mata simetris antara kanan dan kiri sama, bentuk alis simetris, kelopak mata normal tidak ada oedem, konjungtiva anemis, sklera anikterik, gerakan bola mata normal dapat di gerakkan ke segala arah Nerves Kranial III (Oculomotorius) Nervus Kranial IV (Troclearis) Nervus Kranial VI (Abdusen), reflek kornea positif, reaksi pupil ketika diberi cahaya mengecil bentuk miosis,ukuran pupil isokor 2 ml, lapang pandang positif, akomodasi normal, klien bisa mengangkat alis keatas, klien belum bisa membaca dan klien tidak memakai kaca mata ataupun lensa kontak. tidak ada tekanan pada bola mata tidak ada kelainan pada otot-otot mata, dan tidak ada nyeri.
d. Hidung
Bentuk hidung simetris antara kanan dan kiri sama, hidung kotor ditandai dengan adanya secret, tidak ada pernafasan cuping hidung, passage udara ada antara kanan dan kiri, klien tidak bisa menyebutkan bau- bauan, tidak ada lesi dan tidak ada nyeri tekan pada daerah sinus.
e. Telinga
Bentuk telinga simetris antara kanan dan kiri sama, bentuk utuh, telinga bersih, lubang telinga ada, pinna sejajar dengan kantus eye, tidak terdapat tanda-tanda peradangan, tidak ada pengeluaran cairan dari telinga klien, klien tidak mengalami tinnitus fungsi pendengaran normal ditandai dengan klien bisa melakukan apa yang diperintah oleh perawat dan klien tidak menggunakan alat bantu pendengaran, telinga elastis bisa kembali lagi, tidak ada lesi dan tidak ada nyeri tekan pada tulang mastoideus dan tidak sakit saat digerakkan,
f. Mulut
Bentuk mulut simetris, warna bibir merah muda, kebersihan mulut kurang, uvula utuh, tonsil tidak membesar, mukosa lembab, gigi putih, terdapat sisa makanan, tidak ada gigi yang tanggal dan keropos, palatum ada, tidak terdapat lesi, kemempuan menggigit kurang, klien mampu menjulurkan lidah, reflek muntah ada, nervus Kranial XII (Hypoglosusu)fungsi pengecapan baik terbukti klien dapat menyebutkan rasa-rasa yang di ujikan oleh pemeriksa,(manis,asin).
g. Leher
Tidak terdapat peningkatan JVP, tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid, arteri Carotis ada, nervus Kranial VIII,IX,X, (Vestibulokoklearis,Glosofaringeus,Vagus) reflek muntah positif,reflek menelan positif, tidak ada peningkatan kelenjar getah bening.
h. Dada
Bentuk dada simetris antara kanan dan kiri, puting susu ada,letak puting susu simetris, tidak terdapat lesi, pengembangan dada simetris (seimbang).
i. Jantung
Pengembangan dada simetris antara kanan dan kiri sama, tidak ada lesi dan tidak ada nyeri tekan, terdengar bunyi jantung SI di Trikuspid dan mitral (Dub), dan terdengar S2 di aorta dan Pulmonal (lub ) dan tidak ada bunyi tambahan, bunyi jantung saat diperkusi Dalness disetiap ICS.
j. Paru- paru
Pengembangan dada simetris antara kanan dan kiri sama, frekuensi pernafasan 26x/ menit, tidak ada nyeri tekan, vocal premitus ada, irama paru teratur dan suara paru-paru vesikuler, bunyi nafas normal, terdengar suara perkusi pada dada resonan dan simetris antara kanan dan kiri.
k. Abdomen
Bentuk perut kembung, terdapat luka post colostomy didaerah abdomen kuadran kiri atas, keadaan stoma merah muda dan terdapat lendir warna bening, di pasang kantong kolostomy diameter luka kolostomy ± 5 cm, terdapat garis horizontal garis sikatrik. terdapat nyeri tekan di abdomen kuadran kanan dan kiri atas, serta abdomen teraba keras, hepar dan ginjal tidak teraba, bising usus 5x/ menit, suara abdomen hipertimpany.
l. Punggung
Bentuk punggung simetris, tidak ada lesi tidak ada nyeri tekan di sekitar punggung, dan vocal premitus ada, pengembangan paru ada.

m. Genitalia
Jenis kelamin laki-laki, bentuk penis utuh,uretra ada, skrotum ada, klien tidak mengeluh nyeri saat bak,tidak ada pembengkakan didaerah penis dan tidak ada lesi.
n. Anus
Terdapat benjolan dan operasi PSARP, terdapat pistel-pistel dan luka jahitan.
o. Ekstremitas
1. Ekstremitas atas
Bentuk tangan simetris antara kanan dan kiri sama, kekuatan otot 5 ditandai dengan klien bisa mengangkat tangan dan klien bisa menggerakan tangannya kesegala arah serta bisa melawan tangan perawat apabila diberi tahanan, jari tangan berjumlah 10, reflek bisep dan trisep ada, CRT < 2 detik, tidak terdapat lesi, tidak terdapat edema, kedua kuku tangan panjang dan tidak ada kelainan tulang.
2. Ekstremitas bawah
Bentuk kaki simetris antara kanan dan kiri sama, kekuatan otot 5 ditandai dengan klien bisa mengangkat kakinya dan bisa menggerakan kakinya kesegala arah serta bisa bisa melawan tangan perawat apabila diberi tahanan, jari kaki berjumlah 10, reflek patella dan ankle ada,CRT < 2 detik, tidak terdapat lesi, tidak terdapat edema, kedua kuku kaki klien panjang dan tidak ada kelainan tulang.
XII. Riwayat dan pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan
Menurut penuturan ibu klien ketika klien berusia delapan bulan klien sudah bisa merangkak, usia satu tahun klien sudah bisa duduk dan pada usia dua tahun klien sudah bisa berjalan.


XIII. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Tabel 3.1
Tanggal Jenis pemeriksaan Hasil Nilai normal
16 Mei 2009 Kimia Klinik
Natrium ( Na ) 130 mEq/ L 135- 145 mEq/ L
Kalium ( k ) 2,9 mEq/ L 3,6- 5,5 mEq/ L


b. Pemeriksaan Radiologi
Nama : An.R Umur : 6 tahun
Alamat : Poli bedah anak Tanggal : 15042009
Pemeriksaan : Thorax poto No : 32035
Klinis : Post eksisi prolaps recti + pullthroug
Kesan: - Curiga Tb paru aktif
- Tidak tampak kardiomegali
- Elevasi kedua diafragma terutama kiri
XIV. Therapy
Ranitidine 2 x ½ ampul jam 16.00 dan 04.00 WIB /IV.










































B. ANALISA DATA
Tabel 3.2
No. Data Kemungkinan penyebab/ Dampak Masalah
1. Ds: Klien mengeluh nyeri didaerah abdomen kuadran kiri atas
Do: Tidur klien terganggu
Mata klien terlihat sayu
Klien selalu gelisah
Klien selalu menangis
Lihat di bagan patifisiologi Nyeri akut

2. Ds: ibu klien mengatakan klien tidak nafsu makan dan hanya habis 1 sendok makan
Do: Bb 13 kg
Klien tidak mau makan
Nyeri abdomen
BB menurun dari 16 kg sekarang 13 kg
Klien muntah sebanyak 4x
Ketidak seimbangan nutrisi < kebutuhan tubuh

3. DS: Klien mengeluh mual
DO: Kulit dingin
Klien berkeringat
Klien muntah Mual
4. Ds: -
Do: Kuku klien panjang
Badan klien kotor
Kebersihan kurang
Kurang perawatan diri: mandi/ kebersihan


5.
Ds: -
Do: Diabdomen kuadran kiri atas terdapat stoma
Stoma terpasang kantong kolostomy buatan
Kantong kolostomy sering diganti Resiko infeksi








C. DIAGNOSA KEPERAWATAN BERDASARKAN PRIORITAS MASALAH
1. Nyeri akut b.d agen injury fisik
2. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan pemasukan atau mencerna makanan
3. Mual b.d anestesi pasca operasi
4. Kurang perawatan diri : mandi/ kebersihan b.d nyeri
5. Resiko infeksi b.d kerusakan barier kulit


D.RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Tabel 3.3
No Diagnosa Keperawatan Perencanaan
Tujuan Intervensi
1.
































Nyeri akut b.d agen injury fisik







































Kontrol nyeri ( pain kontrol) nyeri akut hilang dibuktikan dengan indikator:
5= tidak pernah timbul
4= jarang
3= kadang- kadang
2= sering timbul
1= selalu
a Skala nyeri
b Klien mengetahui penyebab dari nyeri
c Klien mengetahui pencegahan yang dapat di ukur
d Menggunakan tindakan non analgetik dan dapat di ukur
e Melaporkan gejala dan nyeri berkurang
f Menggunakan tindakan anal getik jika perlu
Level nyeri ( pain level)
a Lamanya nyeri dapat berkurang
b Ekspresi wajah tidak meringis
c Ketegangan otot berkurang
d Tanda- tanda vital dalam batas normal
e Frekuensi nyeri lamanya berkurang
f Tidak mengekspresikan nyeri secara verbal
g Ekspresi wajah berubah
h Kurang tidur teratasi a Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif, meliputi lokasi, karakteristik, awitan/ durasi, frekuensi, kualitas, intensitas/ keparahan nyeri.
b Catat respon verbal dan non verbal
c Gunakan strategi komunikasi therapeutik untuk mengetahui tentang nyeri dan respon nyeri terhadap pasien
d Monitor tanda- tanda vital
e Gali faktor nyeri
f Ajarkan tehnik non farmakologi mis: relaksasi, terapy musik, dan distraksi.


















2. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidak mampuan pemasukan atau mencerna makanan Status nutrisi ( nutritional status ), menunjukan status gizi, asupan makanan normal, ditandai dengan indikator:
5= adekuat total
4= kuat
3= sedang
2= ringan
1= tidak adekuat
a Pemasukan nutrisi normal
b Pemasukan makanan dan cairan normal
c Berat badan normal a Tanyakan pada pasien mengenai alergi makanan
b Ketahui makanan yang disukai pasien
c Kolaborasi dengan ahli gizi tentang kalori dan kebutuhan nutrisi
d Anjurkan pemasukan kalori sesuai dengan keadaan klien
e Monitor pemasukan kalori dan nutrisi
f Timbang berat badan klien
3. Mual b.d Anestesi pasca operasi Keseimbangan cairan Menunjukkan keseimbangan cairan ditandai dengan indikator berikut:
5= tidak bermasalah
4= ringan
3= sedang
2= berat
1= bermasalah secara ekstreem
a. Keseimbangan asupan dan haluaran dalam 23 jam
b. Berat badan stabil
c. Tidak terdapat mata cekung
d. Hidrasi kulit tidak terganggu
e. Membran mukosa lembab
f. Elektrolit serum dalam batas normal
Status nutrisi
Asupan makanan dan cairan ditandai dengan indikator:
5= adekuat penuh
4= kuat
3= sedang
2= ringan
1= tidak asekuat
a. Asupan makanan oral dapat teratasi
b. Asupan cairan oral dalam batas normal
c. Melaporkan terbebas dari mual
d. Mengidentifikasi tindakan yang dapat menurunkan mual
a. Catat intake dan output nutrisi
b. Pantau status nutrisi
c. Pantau status hidrasi
d. Pantau gejala subjektif mual pada pasien
e. Pantau jumlah, kuantitas, dan berat jenis urine
f. Monitor klien untukmengetahui pengalaman mual
g. Anjurkan klien untukmemakai strategi supaya tidak terjadi mual
h. Pantau adanya peningkatan atau penurunan berat badan
i. Pantau adanya kulit kering
j. Pantau tingkat energi, kelemahan dan keletihan
k. Pantau asupan kalori dan makanan
l. Ajarkan untuk makan secara perlahan
m. Kolaborasi untuk pemberian obat anti emetik
n. Berikan perawatan mulut setelah terjadi muntah
4. Kurang perawatan diri: mandi/ kebersihan b.d nyeri
Self- care: hygiene
Menunjukan perawatan diri: aktivitas kehidupan sehari- hari ditandai dengan indikator:
5= mandiri sepenuhnya
4= mandiri dengan bantuan alat bantu
3= membutuhkan bantuan orang lain
2= membutuhkan bantuan orang lain atau alat bantu
1= ketergantungan
a Mampu cuci tangan sendiri
b Di daerah perineal selalu bersih
c Di daerah telinga selalu bersih
d Di daerah hidung selalu bersih
e Di daerah wajah klien selalu bersih
f Dapat memelihara kebersihan mulut
g Klien dapat membersihkan di daerah tubuhnya a Fasilitasi dalam membersihkan gigi
b Fasilitasi klien untuk mandi sendiri
c Monitor kebersihan kuku
d Fasilitasi tempat mandi, sabun, dan yang lainnya
e Ajarkan keluarga dalam melakukan personal hygiene

5. Resiko infeksi b.d kerusakan barier kulit Kontrol resiko (risk control)
Pasien menunjukan pengendalian resiko dibuktikan oleh indikator berikut ini:
5= menunjukan konsisten/ gejala
4= sering
3= kadang- kadang
2= jarang
1= tidak pernah
a Mengetahui faktor resiko
b Monitor faktor resiko
c Strategi untuk pencegahan resiko infeksi
d Temperatur kulit dalam batas normal a Monitor tanda dan gejala infeksi
b Pantau hasil laboratorium
c Kaji faktor yang meningkatkan serangan infeksi
d Anjurkan untuk menjaga kebersihan / hygiene
a Lakukan wound care
b Kaji warna kulit
c Kaji luka
d Kaji adanya pembengkakan dan kemerahan
e Kaji yang dapat meningkatkan faktor infeksi
f Ajarkan klien dan keluarga tentang tanda dan gejala infeksi
Pertahankan tempat tidur dan lingkungan klien

E . CATATAN PERKEMBANGAN
Tabel 3.4
Tanggal DP Jam Catatan Perkembangan Paraf Evaluasi
20 Mei 2009 1






2.





3






4





1





2








3



4




Pagi
07.05



08.10



10.05


10.30


11.00



11.45



12.35


13.05
14.00

Siang
14.30

15.00


16.00


17.00
19.00
20.10
20.40
21.00 Mengobservasi keadaan klien, GCS 15, klien lemah terpasang infus NaCl 0,9 % 14 gtt/ mnt, klien mengeluh nyeri didaerah abdomen kuadran kiri atas dan klien swambil memegang perutnya serta mengukur ttv TD; 100/60 mmHg, S: 36,90C, R: 24x/ mnt, N: 92x/ mnt dan kontrak waktu untuk memandikan, mengguntung kuku, menggosok gigi, serta mengganti kantong kolostomy.
Memandikan klien dengan air hangat dan memakai sabun dengan cara di lap dengan waslap dan menganjurkan klien untuk gosok gigi, serta membantu klien menggunting kuku, dan melakukan perawatan pullthrough dengan disemprot betadin menggunakan spuit 10 cc dan merendam anus klien dengan rendam PK, dan membantu klien mengganti baju dengan baju bersih.
Mengajarkan ibu klien membuat kantong kolostomy dari plastik dan double tip serta memberikan penkes tentang perawatan kolostomy dan mengukur stoma.
Mengobservasi keadaan klien, klien bersih, makan klien habis 3 sendok dan minum susu ½ gelas, klien mengeluh nyeri didaerah abdomen kiri atas serta klien muntah sudah 3x cairannya berwarna hijau dan cair, jumlahnya 100 cc setiap klien muntah.
Mengganti kantong kolostomy dan mengajarkan ibu klien membersihkan stoma dengan kassa atau kapas NaCl lembap, keadaan stoma merah muda ukurannya  5cm dan di daerah sekeliling stoma diberi cincin dengan kassa betadin dan ditutup dengan kantong kolostomy baru.
Mengobservasi keadaan klien dan mengukur TTv S: 36,8oC, R: 24x/mnt, N: 98x/mnt, klien lemah dan klien muntah lagi warnanya hijau dan cair, jumlahnya  100cc tetapi makan klien bertambah dua sendok dan menganjurkan ibu klien untuk memberi makan klien sedikit demi sedikit tetapi sering dan makanan dalam keadaan hangat.
Memberikan pendidikan kesehatan kepada ibu klien tentang asupan nutrisi yang baik bagi anak usia 6 tahun dalam usia masa pertumbuhan dan perkembangan serta membetulkan infusan klien karena macet.
Meng-up infus karena infusan klien macet dan tangan kiri klien dikompres dengan alkohol dan di istirahatkan.
Mengobservasi klien serta pamitan kepada ibu kliendan operan dengan dinas siang.
Operan dengan dinas siang
Mengobservasi keadaan klien, klien lemah dan tidak dipasang infus karena di up oleh yang dinas pagi, klien menangis serta klien masih mengeluh nyeri sambil memegang perut klien sebelah kiri atas.
Mengobservasi TTV: TD: 90/60mmHg, S: 36,20C, R: 24x/mnt, N:98x/mnt, serta mengganti kantong kolostomy dan dibersihkan dengan kassa lembap
Memasang infus dengan bantuan perawat dan menggunakan abocath no.22 dan memberikan therapy Ranitidin 1cc melalui IV( intra selang ).
Mengobservasi makan klien, makan hanya habis 3sendok dan klien muntah 3x warnanya kuning cair dan diberi air minum hangat dan kayu putih serta menganjurkan ibu klien untuk memberi klien makan sedikit demi sedikit tetapi sering dan dalam keadaan hangat.
Mengganti botol infusan dengan cairan NaCl 0,9 % baru.
Mengganti kantong kolostomy dan membersihkan stoma dengan kapas NaCl lembap sebanyak 4x dan dikeringkan serta di ganti dengan kantong kolostomy baru
Mengajak bermain klien dengan menggunakan permaianan puzzle untuk mengurangi rasa nyeri klien.
Pamitan kepada ibu klien untuk pulang. S: klien masih mengeluh nyeri didaerah abdomen kiri atas
O:klien meringis, gelisah dan selalu menangis
A: masalah belum teratasi
P: lanjutkan intervensi
S: klien mengeluh mual
O: klien muntah 2x,mata klien sayu, klien kulit dingin
A:masalah belum teratasi
P: lanjutkan intervensi
S: ibu klien mengeluh anaknya tidak mau makan
O: makan habis sendok, distensi abdomen
A: masalah belum teratasi
P: lanjutkan intervensi

S:-
O: klien terlihat kotor, kuku klien panjang, klien garuk- garuk
A: masalah belum teratasi
P: lanjutkan intervensi


S: -
O: terdapat stoma dan terpasang kantong kolostomy, kantong kolostomy sering diganti
A: masalah belum teratasi
S: klien masih mengeluh nyeri
O: klien menangis, mata sayu, perut kembung
A:masalah belum teratasi
P: lanjutkan intervensi

S: ibu klien mengatakan klien makan habis enam sendokA: masalah belum teratsi
O: BB 13 kg, makan habis enam sendok
A: masalah belum teratasi
P: lanjutkan intervensi

S: -
O: baju klien kotor, tempat tidur tidak rapi
A: masalah belum teratasi
P: lanjutkan intervensi
S: -
O: stoma terpasang kantong kolostomy, kantong kolostomy sering diganti
A: masalah belum teratasi
P: lanjutjan intervensi
21 Mei 2009 1






2







3





4







1






2





3





4



Pagi 07.05




08.00

10.00



11.00

11.45
12.30

13.20
14.00



Siang
14.30

15.45


16.00



17.15
18.45
19.30
20.05
21.00 Mengobservasi keadaan klien, klien lemah, kotor dan klien terlihat tenang serta merapikan tempat tidur dan mengobservasi TTV TD: 100/60mmHg, S: 36,90C, N: 98x/mnt, R: 26x/mnt, dan Mengobservasi makan klien, makan habis enam sendok dan minum satu gelas klien masih mengeluh nyeri didaerah abdomen kuadran kiri atas sambil memegang perut klien serta menganjurkan ibu klien untuk memandikan klien dengan cara di lap
Memfasilitasi ibu klien untuk memandikan klien serta menganjurkan klien untuk menggosok gigi dan mengganti pakaian klien supaya mencegah terjadinya resiko infeksi.
Mengobservasi keadaan klien, klien terlihat bersih dan segar serta menganjurkan klien untuk makan sedikit demi sedikit tapi sering dalam keadaan hangat supaya klien tidak muntah dan klien muntah dua kali muntah cair, berwarna kuning dan oleh ibunya klien diberi kayu putih.
Mengganti kantong kolostomy karena sudah terisi feses dan membersihkan stoma dengan kapas lembap dan mengganti botol infusan dengan NaCl 0.9 % 14 gtt/mnt.
Menganjurkan klien untuk minun susu dan sering makan buah- buahan dan mengajak klien bermain puzzle.
Menganjurkan klien untuk makan dan klien makan disuapin oleh ibunya serta klien makan habis 7 sendok klien makan bubur, sayur, tempe dan daging serta minum habis 1/5 gelas.
Menganjurkan ibu klien membuat kantong kolostomy karena ibu klien meminta untuk diajarin dan ibu klien belum mengerti tentang pembuatan kantong kolostomy yang baik serta di ajarin cara membersihkan stoma dengan menggunakan kapas lembap.
Melakukan operan dinas dengan dinas siang dan memperkenalkan perawat yang akan merawat klien kepada ibu klen.
Melakukan operan dinas dengan dinas pagi
Mengobservasi keadaan klien, klien lemah dan terpasang infus NaCl 0,9 % 14 gtt/mnt, nyeri sudah mulai berkurang dan klien tidak terlalu rewel.
Mengobservasi TTV: TD: 90/60mmHg, S: 36,20C, R: 24x/mnt, N:98x/mnt, serta mengganti kantong kolostomy dan dibersihkan dengan kassa lembap
Memberikan therapy Ranitidin 1cc melalui IV( intra selang ).
Mengobservasi makan klien, makan hanya habis 12 sendok dan klien muntah 1x warnanya kuning cair dan diberi air minum hangat dan kayu putih serta menganjurkan ibu klien untuk memberi klien makan sedikit demi sedikit tetapi sering dan dalam keadaan hangat.
Mengganti botol infusan dengan cairan NaCl 0,9 % baru.
Mengganti kantong kolostomy dan membersihkan stoma dengan kapas NaCl lembap sebanyak 4x dan dikeringkan serta di ganti dengan kantong kolostomy baru
Mengajak bermain klien dengan menggunakan permaianan puzzle untuk mengurangi rasa nyeri klien.
Pamitan kepada ibu klien untuk pulang. S: klien masih mengeluh nyeri
O: klien lemah,
A: masalah teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi

S: ibu klien mengatakan makan klien sudah mulai bertambah
O: makan habis enam sendok
A: masalah teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi

S: -
O: mata klien sayu, klien terlihat bersih dan segar, kuku klien pendek dan bersih
A: masalah teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi
S: -
O: terdapat stoma dan ditutup dengan kantong kolostomy, kantong kolostomy sering diganti
A: masalah teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi


S: klien masih mengeluh nyeri
O: klien masih lemah
A: masalah teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi

S: ibu klien mengatakan klien makan bertambah
O: makan habis 10 sendok, minum 1 gelas, BB 13 kg
A: masalah teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi
S: -
O: klien bersih, baju rapi, kuku pendek
A: masalah teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi
S:-
O: terpasang kantong kolostomy
A:masalah teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi
22mei 2009 1






2







3




4





1




2




3



4 Pagi
07.10
07.30


08.05


09.30
10.40



11.00
11.45

12.30


12.45
13.00

14.00


Siang
14.00
14.25
15.00
15.45

16.00
17.15
17.30 Mengobservasi keadaan klien GCS 15, klien lemah terpasang infus NaCl 0,9 % 14 gtt/mnt, nyeri klien berkurang dan klien sudah mau ngobrol dengan perawat.
Membereskan tempat tidur klien serta menganjurkan ibu klien untuk memberi makan dan menganjurkan ibu klien untuk memandikan klien dengan cara di lap, menganjurkan klien gosok gigi dan mengganti pakaian.
Memfasilitasi ibu klien untuk memandikan dan gosok gigi dengan menyediakan air hangat dan pasta gigi serta menganjurkan klien untuk mengganti pakaian untuk mencegah infeksi.
Mengobservasi keadaan klien makan habis 10 sendok masih terpasang infusan NaCl 0.9 % 14gtt/mnt, keadaan klien terlihat segar dan sudah tidak murung dan klien ngobrol dengan perawat , nyeri klien sudah berkurang.
Mengganti kantong kolostomy klien serta membersihkan stoma dengan menggunakan kapas lembap dan menganjurkan ibu klien untuk menjaga kebersihan disekitar stoma serta disekitar lingkungan klien untuk mencegah terjadinya infeksi.
Memberikan penkes kepada ayah klien tentang perawatan kolostomy dirumah dan menganjurkan klien ntuk makan yang bergizi dan menghindari jajanan dari warung yang mengandung bahan kimia serta menganjurkan ayah klien untuk selalu mengawasi klien dalam kegiatan sehari- hari.
Merendam anus klien dan PK selama 2 menit dengan menggunakan air hangat dan melakukan perawatan pullthrough dengan disemprot betadin menggunakan spuit 10cc.
Menganjurkan klien untuk menggambar supaya nyeri teralihkan dan mengganti laken klien karena basah
Memberikan discharge planning karena klien mau pulang danmenganjurkan klien untuk sering istirahat
Mengobservasi makan klien makan habis ½ porsi dan muntah sudah tidak ada serta minum klien 1 gelas
Operan dengan dinas siang dan pamitan kepada keluarga klien dan klien karena klien mau pulang.


Operan dengan dinas pagi.
Mengobservasi TTV TD; 90/60mmHg, S; 37,10C, R: 22x/mnt, N: 98x/mnt, klien masih terpasang infus NaCl 0,9 % 14gtt/mnt.
Mengobservasi makan klien makan klien bertambah 6 sendok dan minum ½ gelas serta klien sudah tidak muntah, nyeri berkurang dan keadaan klien bersih.
Mengganti kantong kolostomy dengan menggunakan kapas lembap dan mengganti dengan kolostomy baru
Memberi therapy ranitidin 1cc lewat bolus.
Meng-up infus klien karena klien mau pulang san mengompres tangan klien dengan alkohol.
Mengantar klien pulang menggunakan kursi roda dan menganjurkan klien untuk banyak istirahat. S: klien mengatakan nyeri berkurang
O: klien memegang perutnya
A: masalah teratasi sebagian
P:lanjutkan intervensi

S: ibu klien mengatakan klien makan habis ½ porsi
O: makan habis ½ porsi, BB 13 kg
A: masalah teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi

S: -
O: klien bersih
A: masalah teratasi sebagian
P:lanjutkan intervensi

S: -
O: klien terpasang kantong kolostomy
A: masalah teratsi sebagian
P: lanjutkan intervensi
S: klien mengatakan nyeri berkurang
O: mata klien sayu
A: masalah teratasi
P: pertahankan kondisi

S: ibu klien mengatakan makan habis ½ porsi
O: BB 13kg, klien tidakmuntah
A: masalah teratasi
P: pertahankan kondisi
S: -
O:klien bersih, baju rapi
A: masalah teratasi
P: pertahankan kondisi
S:-
O: terpasang kolostomy
A:masalah teratasi sebagian
P: pertahankan kondisi




F. PEMBAHASAN
Setelah penulis melaksanakan Asuhan Keperawatan pada An. R dengan Penyakit Hirsprung di Ruang Perawatan Anak ( Cempaka ) Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Penulis menemukan kesenjangan antara teori dan pelaksanaanya dilahan praktek baik di pengkajian, perencanaan, implementasi, maupun evaluasi. Pada pembahasan ini diuraikan kesenjangan antara teori dan praktek yang ditemukan selama melakukan asuhan keperawatan.
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap yang sistematis dalam pengumpulan data tentang individu, keluarga dan kelompok. Saat pengkajian di dapatkan data yang meliputi identitas klien dan identitas orang tua klien, keluhan utama, riwayat kesehatan, pengkajian fisik dan pemeriksaan penunjang.
Selama pengkajian pendekatan yang dibutuhkan pertama kali adalah pendekatan terhadap klien serta pendekatan terhadap keluarganya dikarenakan anak dalam usia pre school ( 6 tahun ) masih merupakan tanggung jawab orang tua dan masih ketergantungan dengan orang tuanya. Hal ini dicetuskan bahwa anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang perubahan perkembangan yang dimulai dari bayi hingga dewasa.
Pendekatan pada saat pengkajian adalah melakukan pendekatan pada usia pre school karena usia klien adalah 6 tahun, “Dimana posisi anak lebih suka berdiri atau duduk, biasanya anak kooperatif dengan posisi telungkup atau terlentang, dan klien menyukai kedekatan dengan orang tua. Apabila klien kooperatif bisa dilakukan pemeriksaan fisik secara head to toe dan usia tersebut tergolong usia pre school” ( Wong, 2003: 34 ). Pada saat melakukan pengkajian fisik posisi klien berbaring karena keadaan umum klien lemah, klien rewel, terdapat stoma da terpasang kantong kolostomy.
Tekhnik saat melakukan pengkajian pada anak berbeda dengan orang dewasa, karena pada anak terdapat masalah hospitalisasi. Dimana hospitalisasi itu sendiri adalah “ Suatu proses karena suatu alasan darurat atau berencana mengharuskan anak- anak untuk tinggal di Rumah Sakit, menjalani therapy dan perawatan sampai pemulangan kembali ke rumah “ ( Braidmant: 2007 ). Maka untuk mengatasi hospitalisasi tersebut pada saat melakukan pengkajian dan tindakan keperawatan dibutuhkan suatu alat permainan edukatif yang sesuai dengan usia klien dimana alat permainan ini dapat mengoptimalkan rasa kecemasan klien sebagaimana dikemukakan oleh Nagastiyah ( 2005: 14), bahwa “ Alat permainan edukatif adalah alat permainan yang dapat mengoptimalkan perkembangan anak, disesuaikan dengan usia dan tingkat perkembangannya serta berguna untuk anak.” Pada saat melakukan pengkajian penulis memakai alat permainan seperti puzzle warna dan bentuk serta buku gambar yang tujuannya untuk pengembangan aspek kognitif atau kecerdasan klien serta bertujuan untuk distraksi atau mengalihkan perhatian klien.
Didalam pengkajian terdapat identitas diantaranya identitas klien meliputi nama, nama panggilan, umur, jenis kelamin, agama, bahasa yang digunakan, suku bangsa, pendidikan, tanggal masuk Rumah Sakit, ruangan, nomor medrek, diagnosa medis, hal tersebut ditujukan untuk mempermudah dalam berkomunikasi dengan klien yang bersangkutan. Sedangkan identitas keluarga meliputi: nama ayah, ibu, umur, pendidikan, pekerjaan, agama, suku bangsa dan alamat yang mudah dihubungi bertujuan untuk mempermudah dalam berkomunikasi dengan keluarga yang bersangkutan.
Keluhan utama yang penulis dapatkan dari hasil pengkajian klien adalah nyeri pada abdomen kuadran kiri atas dan keluhan ini didapatkan langsung dari klien dan klien post operasi hari ke enam.
Riwayat kesehatan sekarang merupakan pengembangan dari keluhan utama dengan menggunakan PQRST, dimana dalam kasus yang penulis dapatkan pada saat dikaji pada tanggal 18 Mei 2009 klien mengeluh nyeri di daerah abdomen serta klien selalu menangis dan memegang perutnya. Nyeri akan timbul apabila klien diganti kantong kolostomy dan dibersihkan stomanya pada pagi hari, siang ataupun malam, tetapi nyeri akan hilang apabila klien istirahat tidur, skala nyeri yang dirasakan klien 3 (1- 5 ).
Riwayat kehamilan dan persalinan pada saat dikaji, prenatal: dikaji tentang kehamilan keberapa, HPHT dan taksiran persalinan, antenatal care yang meliputi pemeriksaan kehamilan mendapat vitamin saat hamil, imunisasi TT 2x, ditanyakan keluhan yang dirasakan ibu klien saat hamil, kebiasaan buruk saat hamil seperti merokok dan penyakit yang diderita saat hamil. Pada kasus yang penulis dapatkan pada ibu klien ketika hamil disuntik TT 2x dan tidak pernah merokok serta tidak mengalami penyakit yang memperberat kehamilan, tetapi ibu klien pernah membeli obat dari warung tanpa menggunakan resep Dokter apabila ibu klien sakit kepala, batuk- batuk ataupun influenza. Klien merupakan anak keenam dari enam bersaudara dan berat badan klien saat lahir adalah 2000gram.
Riwayat kesehatan masa lalu dilakukan pengkajian mengenai riwayat penyakit yang pernah diderita oleh klien sebelum klien dirawat di Rumah Sakit. Adapun pada kasus yang penulis ambil klien pernah di rawat sebelumnya di Rumah Sakit Al- Islam Bandung pada tahun 2006 dengan dilakukan operasi pembuatan kolostomy dan di rawat selama 7 hari, pada tahun 2007 klien dirawat di Rumah Sakit Pindad selama 6 hari dengan dilakukan operasi penutupan kolostomy dan pullthrough. Pada tahun 2008 klien dilakukan tindakan pullthrough di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung karena klien mengeluh perutnya kembung.
Pada riwayat pertumbuhan dan perkembangan dikaji mengenai masa pertumbuhan dan perkembangan anak dari mulai lahir sampai sekarang. Hal ini dikemukakan oleh Whalley and Wong: 2003, bahwa “ Dalam pertumbuhan dan perkembangan anak terdapat suatu peristiwa yang dialaminya yaitu masa percepatan dan perlambatan.” Pada kasus yang penulis temukan bahwa klien tidak mengalami keterlambatan pertumbuhan dan perkembang anak pada usia pre school.
Riwayat immunisasi yaitu mengkaji apakah klien mendapatkan immunisasi lengkap atau tidak, pada kasus yang penulis ambil terdapat bahwa klien mendapatkan immunisasi lengkap sesuai dengan jadwal posyandu.
Riwayat kesehatan keluarga perlu dikaji penyakit yang pernah di derita ataupun yang sedang diderita oleh klien baik penyakit yang sama dengan yang dialami oleh klien maupun penyakit genetic. Hal ini dikemukakan oleh Wong, 2003: 14 bahwa” Riwayat kesehatan keluarga untuk mengidentifikasi adanya sifat genetic atau penyakit yang memiliki kecenderungan familial, untuk mengkaji kebiasaan keluarga dan terpapar penyakit menular yang dapat mempengaruhi anggota keluarga.” Pada kasus yang penulis ambil tidak ada anggota keluarga yang mengalami penyakit yang sama dengan klien dan keadaan rumah klien pun menurut penuturan ibu klien bersih jauh dari pabrik maupun dari tempat yang menyebabkan terganggu.
Pada saat dilakukan pengkajian nutrisi klien kurang dari kebutuhan dimana berat badan klien 13 kg dan berat badan yang normal pada usia klien ( 6 tahun ) adalah 20 kg dimana dirumuskan dengan ( 2 N+ 8 ) serta klien tidak nafsu makan dan klien kadang suka merasa mual bahkan pernah mengalami muntah. Hal ini dikemukakan oleh Wong, 2003: 14 bahwa “ riwayat nutrisi bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang keadekuatan masukan diet anak dan pola makan anak.”
Personal hygiene klien terganggu ditandai dengan keadaan tubuh klien kotor, kuku tangan dan kuku kaki klien panjang dan kotor, klien tidak pernah gosok gigi karena ibu klien tidak membawa sikat gigi dan pasta gigi, ibu klien suka memandikan klien dengan cara di lap dengan air hangat tetapi tidak pernah memakai sabun mandi karena ibu klien tidak membawa sabun mandi sehinnga mengakibatkan tubuh klien menjadi gatal dan resiko akan terjadinya infeksi.
Pola aktivitas sehari- hari dikaji tentang kebiasaan klien sehari- hari baik ketika di rumah maupun di Rumah Sakit. Pada kasus yang penulis dapatkan bahwa klien mengalami gangguan pada pola nutrisi dan personal hygiene.
“Pemeriksaan fisik merupakan hal penting dalam mendapatkan data dan mengevaluasi kondisi klien. Perawat menggunakan tehnik inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi untuk memeriksa kondisi fisik klien secara menyeluruh. Pada tahap ini perawat dituntut untuk mengkuasai pengkajian fisik baik dengan pendekatan system tubuh maupun menyeluruh ( head to toe )” ( Haryanto (Craven and Hirnle, 2000: 39)). Adapun pada saat pemeriksaan fisik yang penulis lakukan pada klien adalah head to toe akan tetapi pemeriksaan pada daerah mata. Hidung, mulut dan telinga diperiksa terakhir karena itu semua merupakan pemeriksaan yang a traumatic dan pemeriksaan berat badan dan tekanan darah pun terakhir karena keadaan klien yang tidak kooperatif dan pada kasus yang diambil oleh penulis adalah focus pada pemeriksaan daerah abdomen karena sesuai dengan keluhan yang dirasakan oleh klien dimana hasil dari pemeriksaan abdomen itu sendiri yaitu bentuk abdomen kembung terdapat luka post operasi kolostomy didaerah abdomen kuadran kiri atas, keadaan stoma merah muda dan terdapat lender warna bening, di pasang kantong kolostomy diameter luka kolostomy ± 5 cm, terdapat garis sikatrik yang berbentuk horizontal, terdapat nyeri tekan di abdomen kuadran kanan dan kiri atas serta abdomen teraba keras, hepar dan ginjal tidak teraba, bising usus 5x/ menit dan suara abdomen timpani.
Pada data penunjang dicantumkan hasil laboratorium terakhir, pemeriksaan penunjang terakhir seperti pemeriksaan rontgen, USG dan pemeriksaan lainnya yang menunjang untuk penegakan diagmosa. Serta therapy atau pengobatan terakhir yang diberikan pada klien, dimana sumber data yang terakhir adalah data laboratorium dan diagnostic. Data laboratorium dapat membantu mengidentifikasi masalah perawatan actual maupun resiko. Data laboratorium yang di dapat lalu dibandingkan dengan nilai standar atau normal sesuai dengan jenis pemeriksaan, usia dan jenis kelamin.dan di dalam kasus yang penulis dapatkan bahwa pemeriksaan laboratorim kimia klinik seperti Natrium normal hasilnya 130 mEq/ L dalam batas normal ( 135- 145 nEq/ L) sedangkan nilai Kaliun adalah 2,9 dalam batas normal ( 3,6- 5,5 mEq/ l ). Dan pada pemeriksaan Radiologi terdapat kesan curiga TB paru aktif, tidak tampak kardiomegali dan elevasi kedua diafragma terutama kiri.
Dalam analisa data ditulis data- data dari pasien baik yang bersifat obyektif maupun subyektif, kemudian ditulis kemungkinan penyebab yang dapat terjadi dan masalah yang muncul dari kemungkinan penyebab yang telah ditulis. Adapun data yang didapatkan dari klien diantaranya adalah klien mengeluh nyeri karena adanya luka post operasi sehingga terputusnya kontinuitas jaringan dan merangsang syaraf aferen dan merangsang pengeluaran zat- zat iritatif seperti bradikinin, histamin dan serotinin sehingga merangsang medulla spinalis dan thalamus dan akhirnya nyeri dipersepsikan. Selain itu juga penulis mendapatkan data mengenai kekurangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh karena kegagalan sel ganglion pada kolon dan menyebabkan relaksasi peristaltik abnormal dan peristaltik tidak sempurna sehingga menjadi obstruksi parsial dan terjadi reflek peristaltik yang mengakibatkan perasaan penuh sehinnga terjadi perubahan nutrisi.
Penulis juga mendapatkan data bahwa klien mengeluh mual karena kegagalan sel ganglion pada kolon sehingga relaksasi peristaltik abnormal yang mengakibatkan peristaltik tidak sempurna dan menyebabkan obstruksi parsial dan reflek peristaltik sehinnga terjadi perasaan penuh diperut yang mengakibatkan klien mual bahkan terjadi muntah.
“Diagnosis keperawatan adalah suatu pernyataan klinik yang menjelaskan tentang respon individu, keluarga, dan masyarakat terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan baik actual atau potensial” Haryanto (Carpenito and Moyet, 2007: 50 ). Adapun diagnosa yang muncul pada kasus yang diambil oleh penulis adalah sebagai berikut:
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen injury fisik
Berdasarkan nanda halaman 139 bahwa nyeri akut adalah sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosional yang muncul secara actual atau potensial kerusakan jaringan atau menggambarkan adanya kerusakan (asosiasi study nyeri internasional): serangan mendadak atau pelan intensitasnya dari pelan hingga berat yang dapat diantisipasi dengan akhir yang dapat diprediksi dan durasi kurang dari enam bulan. Diagnosa yang ditegakkan berdasarkan batasan karakteristik yang terdapat pada nanda hal. 139 adalah: tidur klien terganggu, mata klien terlihat sayu, klien selalu gelisah dan klien selalu menangis. Adapun faktor yang berhubungan yang diambil oleh penulis nyeri b.d agen injury fisik karena pada kasus ini klien sudah dilakukan insisi atau dilakukan pembedahan yang mengakibatkan terjadinya injury.
b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan ketidak mampuan pemasukan atau mencerna makanan
Berdasarkan nanda hal. 136 bahwa ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh adalah intake nutrisi tidak cukup untuk keperluan metabolisme tubuh. Diagnosa yang ditegakkan berdasarkan batasan karakteristik yang terdapat pada Nanda hal. 136 adalah bb klien 13kg, klien tidak mau makan, nyeri di daerah abdomen, bb menurun dari 16 kg sekarang 13 kg dan klien muntah sebanyak 2x. Adapun faktor yang berhubungan yang diambil oleh penulis adalah ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh karena pada kasus ini klien mengalami penurunan berat badan dan di tandai dengan klien tidak nafsu makan.
c. Mual b.d Anestesi pascaoperasi
Berdasarkan nanda hal.127 bahwa mual adalah tidak nyaman, perasaan seperti ada gelembung dibelakang tenggorokan, epigastrium atau sepanjang abdomen yang mungkin atau tidak menyebabkan muntah. Diagnosa ini ditegakkan berdasarkan batasan karakteristik yang ada pada nanda adalah melaporkan mual atau sakit pada perut, selalu didahului oleh muntah, tapi bisa dialami setelah muntah atau ketika muntah terjadi dan diikuti dengan pucat, kulit dingin dan berkeringat, peningkatan salivasi, tahikardi, statis gaster, diare, diikuti dengan gerakan menelan yang dipengaruhi oleh otot skeletal tetapi data yang penulis dapatkan adalah kulit dingin, klien berkeringat, klien muntah 2x. Jadi faktor yang berhubunganyang diambil oleh penulis adalah mual b.d Anestesi pasca operasi.
d. Kurang perawatan diri: mandi/ kebersihan b.d nyeri
Berdasarkan Nanda hal. 148 bahwa kurang perawatan diri: mandi/ kebersihan adalah gangguan kemampuan melakukan aktivitas kebersihan atau menyelesaikan mandi dengan sendiri. Diagnosa ini ditegakkan berdasarkan batasan karakteristik yang terdapat pada nanda hal. 148 yaitu ketidak mampuan untuk membersihkan badan atau bagian badan, ketidakmampuan untuk memperoleh persediaan mandi dan dari hasil yang penulis dapatkan dari klien adalah kuku tangan dan kaki klien panjang dan kotor, badan klien kotor dan kebersihan kurang. Adapun faktor yang berhubungan yang diambil oleh penulis adalah kurang perawatan diri: mandi/ kebersihan b.d nyeri karena pada kasus ini ditemukan bahwa klien mengeluh nyeri sehingga menghambat perawat untuk melakukan kebutuhan dasar manusia dan di tandai dengan ibu klien tidak membawa sabun mandi dan sikat gigi serta pasta gigi.
e. Resiko infeksi b.d kerusakan barier kulit
Berdasarkan nanda hal. 61 bahwa resiko infeksi adalah peningkatan resiko masuknya organisme patogen. Diagnosa ini ditegakkan berdasarkan faktor- faktor resiko yang terdapat pada Nanda hal. 61 yaitu: prosedur invasif, kerusakan jaringan dan peningkatan paparan lingkungan dan trauma. Akan tetapi pada kasus yang penulis dapatkan bahwa klien terdapat stoma, terpasang kantong kolostomy buatan, terpasang infusan dan kantong kolostomy yang sering diganti. Jadi faktor yang berhubungan yang diambil oleh penulis adalah resiko infeksi b.d kerusakan barier kulit karena klien terdapat stoma yang terpasang kantong kolostomy buatan.
2. Perencanaan
Haryanto ( Carpenito dan Moyet, 2007: 83), mengemukakan bahwa ”Perencanaan adalah metode pemberian perawatan langsung kepada klien”. Rencana asuhan keperawatan yang dibuat berdasarkan diagnosa yang di ambil sesuai dengan batasan karakteristik pada buku Nanda, kriteria hasil yang diharapkan adalah sesuai dengan NOC dan intervensi yang dilakukan pada klien adalah sesuai pada NIC. Pada tahap ini penulis menyusun rencana tindakan sesuai dengan permasalahan yang ditemukan sesuai intervensi yang penulis buat tidak hanya intervensi di Rumah Sakit saja tetapi penulis juga membuat intervensi untuk klien setelah klien pulang ke rumah. Hal ini penulis lakukan karena untuk mengatasi penyakit klien diperlukan upaya- upaya prefentif agar keluhan yang dirasakan klien tidak berat dalam membuat perencanaan. Pada tahap pelaksanaan penulis melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan intervensi yang telah dibuat disesuaikan dengan kondisi klien, kemampuan perawat dan keadaan ruangan dengan melibatkan klien dan keluarga klien serta tim kesehatan lainnya. Perawatan pada klien dengan hirsprung harus ditunjang juga dengan pemberian diet makanan yang sesuai dengan keadaan lingkungan yang sehat, baik ketika di rumah sakit maupun di rumah.
Adapun kriteria hasil untuk diagnosa nyeri akut b.d agen injury fisik berdasarkan NOC adalah pain control dengan indikator nyeri akut hilang, skala nyeri tidak pernah timbul, klien mengetahui penyebab dari nyeri, klien mengetahui pencegahan yang dapat diukur, menggunakan tindakan non analgetik dan dapat diukur, melaporkan gejala dan nyeri berkurang serta menggunakan tindakan analgetik jika perlu. Selain pain control penulis juga mencantumkan pain level dimana indikatornya adalah lamanya nyeri dapat berkurang, ekspresi wajah tidak meringis, ketegangan otot berkurang, tanda- tanda vital dalam batas normal, frekuensi nyeri lamanya berkurang, tidak mengekspresikan nyeri secara verbal, ekspresi wajah berubah dan kurang tidur teratasi. Dan kriteria hasil yang tercapai berdasarkan keadaan klien adalah nyeri akut hilang, skala nyeri tidak pernah timbul, menggunakan tindakan non analgetik dengan cara bermain untuk mengalihkan rasa nyeri, melaporkan gejala dan nyeri berkurang, ekspresi wajah tidak menangis, ketegangan otot berkurang, tanda- tanda vital dalam batas normal, tidak mengekspresikan nyeri secara verbal, ekspresi wajah berubah serta kurang tidur teratasi.
Intervensi untuk diagnosa nyeri akut yang penulis rencanakan berdasarkan NIC adalah lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif, meliputi lokasi, karakteristik, awitan atau durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau keparahan nyeri, catat respon verbal dan non verbal, gunakan strategi komunikasi therapeutik untuk mengetahui tentang nyeri dan respon nyeri terhadap klien, monitor tanda- tanda vital, gali faktor nyeri, ajarkan tehnik non farmakologi mis: relaksasi, terapy musik, dan distraksi. Adapun intervensi yang penulis capai adalah mengkaji nyeri klien, menggunakan strategi komunikasi therapeutik untuk mengetahui tentang nyeri dan respon nyeri terhadap klien, monitor tanda- tanda vital, mengajarkan tehnik distraksi atau pengalihan nyeri dengan bermain puzzle.
Kriteria hasil untuk diagnosa ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan pemasukan atau mencerna makanan berdasarkan NOC adalah Pemasukan nutrisi normal, pemasukan makanan dan cairan normal dan berat badan normal. Dan kriteria hasil yang penulis dapatkan berdasarkan keadaan klien adalah pemasukan makanan dan cairan normal dan pemasukan nutrisi normal.
Intervensi untuk diagnosa ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang penulis rencanakan berdasarkan NIC adalah tanyakan pada pasien mengenai alergi makanan, ketahui makanan yang disukai pasien, kolaborasi dengan ahli giji tentang kalori dan kebutuhan nutrisi, anjurkan pemasukan kalori sesuai dengan keadaan klien, monitor pemasukan kalori dan nutrisi dan timbang berat badan klien. Adapun intervensi yang tercapai adalah menanyakan makanan alergi klien, mengetahui makanan kesukaan klien, kolaborasi dengan ahli gizi tentang kalori dan kebutuhan nutrisi serta menimbang berat badan klien.
Kriteria hasil untuk diagnosa mual b.d anestesi paskaoperasi berdasarkan NOC adalah Keseimbangan asupan dan haluaran dalam 23 jam, berat badan stabil, tidak terdapat mata cekung, hidrasi kulit tidak terganggu, membran mukosa lembab, elektrolit serum dalam batas normal, asupan makanan oral dapat teratasi, asupan cairan oral dalam batas normal, melaporkan terbebas dari mual, mengidentifikasi tindakan yang dapat menurunkan mual. Dan kriteria hasil yang penulis capai berdasarkan keadaan klien adalah tidak tyerdapat mata cekung, hidrasi kulit tidak terganggu, membran mukosa lembab, asupanh makanan oral dapat teratasi, melaporkan terbebas dari mual.
Intervensi untuk diagnosa mual yang penulis rencanakan berdasarkan NIC adalah Catat intake dan output nutrisi, pantau status nutrisi, pantau status hidrasi, pantau gejala subjektif mual pada pasien, pantau jumlah, kuantitas, dan berat jenis urine, monitor klien untuk mengetahui pengalaman mual, anjurkan klien untuk memakai strategi supaya tidak terjadi mual, pantau adanya peningkatan atau penurunan berat badan, pantau adanya kulit kering, pantau tingkat energi, kelemahan dan keletihan, pantau asupan kalori dan makanan, ajarkan untuk makan secara perlahan, kolaborasi untuk pemberian obat anti emetik, berikan perawatan mulut setelah terjadi muntah. Adapun intervensi yang penulis capai adalah catat intake dan output nutrisi, pantau gejala subjektif mual pada pasien, anjurkan klien untuk memakai strategi supaya tidak terjadi mual, pantau adanya peningkatan atau penurunan berat badan, pantau adanya kulit kering, ajarkan untuk makan secara perlahan, kolaborasi untuk pemberian obat anti emetik, berikan perawatan mulut setelah terjadi muntah.
Kriteria hasil untuk diagnosa kurang perawatan diri: mandi/ kebersihan b.d nyeri berdasarkan NOC adalah Mampu cuci tangan sendiri, di daerah perineal selalu bersih, di daerah telinga selalu bersih, di daerah hidung selalu bersih, di daerah wajah klien selalu bersih, dapat memelihara kebersihan mulut, klien dapat membersihkan daerah tubuhnya. Dan kriteria hasil yang penulis capai berdasarkan keadaan klien adalah klien mempu cuci tangan sendiri, di daerah hidung dan telinga selalu bersih, klien mampu memelihara kebersihan mulut.
Intervensi untuk diagnosa kurang perawatan diri: mandi/ kebersihan yang penulis rencanakan berdasarkan NIC adalah Fasilitasi dalam membersihkan gigi, fasilitasi klien untuk mandi sendiri, monitor kebersihan kuku, fasilitasi tempat mandi, sabun, dan yang lainnya dan ajarkan keluarga dalam melakukan personal hygiene. Dan intervensi yang penulis capai berdasarkan keadaan klien adalah memfasilitasi dalam membersihkan gigi, memonitor kebersihan kuku, memfasilitasi tempat mandi, sabun, dan yang lainnya serta mengajarkan klien dalam melakukan personal hygiene.
Kriteria hasil untuk diagnosa resiko infeksi b.d kerusakan barier kulit berdasarkan NOC adalah mengetahui faktor resiko, monitor faktor resiko, strategi untuk pencegahan resiko infeksi dan temperatur kulit dalam batas normal. Adapun tujuan yang penulis capai berdasarkan keadaan klien adalah mengetahui faktor resiko, strategi untuk pencegahan resiko infeksi.
Intervensi untuk diagnosa resiko infeksi berdasarkan NIC adalah Monitor tanda dan gejala infeksi, pantau hasil laboratorium, kaji faktor yang meningkatkan serangan infeksi, anjurkan untuk menjaga kebersihan / hygiene, lakukan wound care, kaji warna kulit, kaji luka, kaji adanya pembengkakan dan kemerahan, kaji yang dapat meningkatkan faktor infeksi, ajarkan klien dan keluarga tentang tanda dan gejala infeksi serta pertahankan tempat tidur dan lingkungan klien. Dan intervensi yang penulis capai berdasarkan keadaan klien adalah memonitor tanda dan gejala infeksi, menganjurkan keluarga untuk menjaga kebersihan, melakukan perawatan kolostomy, mengkaji adanya pembengkakan dan kemerahan mengajarkan keluarga klien tentang tanda dan gejala infeksi serta menganjurkan keluarga klien untuk mempertahankan kebersihan tempat tidur dan lingkungannya.
3. Implementasi
Pada tahap ini penulis melaksanakan tindakan sesuai dengan intervensi yang telah di buat, seluruh intervensi yang penulis tidak dapat dilaksanakan karena penulis merasa banyak sekali hambatan yaitu anaknya kurang kooperatif dan suasana lingkungan yang kurang mendukung sehingga pelaksanaan intervensi kurang baik, tetapi hal ini penulis siasati dengan bekerja sama dengan perawat ruangan dan melibatkan keluarga klien sebagai sistem pendukung.
Adapun implementasi yang penulis lakukan adalah mengkaji keadaan nyeri dan pada saat penulis melakukan implementasi ini penulis mengalami kesulitan untuk mengkaji keadaan nyeri klien karena klien masih berusia enam tahun. Pada saat melakukan implementasi untuk diagnosa ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh adalah penulis memonitor makan klien setiap hari, menganjurkan klien untuk makan makanan yang bergizi, menganjurkan klien untuk banyak minum, menimbang berat badan klien serta memberi support kepada klien untuk banyak makan. Implementasi untuk diagnosa mual adalah memenuhi kebutuhan asupan kalori dan nutrisi klien, menganjurkan klien untuk makan sedikit demi sedikit tetapi sering dalamkeadaan hangat, menganjurkan klien untuk tetap menjaga kebersihan mulut, dan memberikan obat anti emetik yaitu memberikan obat ranitidin 1cc untuk mencegah terjadinya mual.
Implementasi untuk diagnosa kurang perawatan diri: mandi/ kebersihan adalah memenuhi kebutuhan dasar manusia klien, memandikan klien dengan air hangat dan memakai sabun, menganjurkan klien untuk gosok gigi dengan menggunakan sikat gigi dan pasta gigi, memotong kuku klien yang sudah panjang, mengganti pakaian klien setiap habis mandi dan mengganti laken setiap dua hari sekali. Implementasi untuk diagnosa resiko infeksi adalah membersihkan stoma dengan menggunakan kapas lembap dan mengganti kantong kolostomy sapbila kantong kolostomy sudah terisi feses serta menganjurkan keluarga klien untuk tetap menjaga kebersihan klien dn lingkungannya supaya terhindar dari resiko infeksi.
4. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan yang berguna untuk menilai perkembangan klien setelah diberikan asuhan keperawatan. Penilaian evaluasi ada tiga macam yaitu masalah teratasi seluruhnya, masalah teratasi sebagian dan masalah tidak teratasi. Penulis membuat rencana selama lima hari untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dari empat diagnosa yang muncul tiga diagnosa masalah teratasi dan klien pulang setelah lima hari mendapatkan perawatan, hal ini dikarenakan kondisi tubuh klien yang membaik dan memberikan respon yang baik terhadap program pengobatan dan perawatan sehingga klien dapat pulang. Selama klien diperbolehkan pulang penulis memberikan discharge planning kepada keluarga klien untuk melakukan perawatan selanjutnya di rumah.
Pada tahap evaluasi dari mulai penulis melakukan pengkajian sampai muncul data hingga didapatkan diagnosa keperawatan yang akhirnya munculah tujuan dan intervensi yang ingin penulis capai dan akhirnya penulis dapat mengevaluasi bahwa diagosa nyeri akut masalah teratasi karena klien sudah diperbolehkan untuk pulang oleh dokter, untuk diagnosa ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh masalah teratasi sebagian karena berat badan klien belum normal dan nutrisi klien masih terlihat kurang. Diagnosa mual masalah teratasi karena pada hari ke lima klien penulis melakukan asuhan keperawatan klien sudah tidak mengeluh muntah lagi.
Diagnosa kurang perawatan diri: mandi/ kebersihan assesmennya masalah teratasi karena ditandai dengan keadaan klien bersih, kuku klien pendek dan bersih, klien suka mandi dan gosok gigi setiap pagi hari yang dibantu oleh ibunya. Diagnosa resiko infeksi asseamennya masalah teratasi sebagian karena resiko infeksi tidak hanya terjadi ketika sedang dilakukan perawatan di Rumah Sakit saja tetapi ketika dilakukan perawatan di rumah pun akan terjadi resiko infeksi dan itu tergantung pada kebersihan klien dan lingkungannya dan pada saat di Rumah Sakit klien selalu di pantau akan terjadinya resiko infeksi.





























BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Setelah penulis melaksanakan asuhan keperawatan pada An. R selama lima hari (18- 22 mei 2009) dengan penyakit hirsprung di ruangan anak ( cempaka ) Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai barikut:
1. Hirschsprung merupakan penyakit kongenital yang menempati peringkat terbesar kedua dari lima penyakit kongenital di ruang anak Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.
2. Hirsprung ditandai dengan gagal mengeluarkan mekonium dalam 24- 48 jam setelah lahir, muntah berwarna empedu, menolak untuk minum, dan distensi abdomen. Sedangkan pada bayi dan anak- anak adalah konstipasi, diare berulang dan muntah, tinja seperti pita, berbau busuk dan menyengat seperti karbon, distensi abdomen, gagal tumbuh kembang, ketidak mampuan menambah berat badan, masa fekal dapat teraba.
3. Dari hasil pengkajian pada An. R didapatkan keluhan nyeri, distensi abdomen,mual, muntah, BB 13 kg, terdapat stoma dengan kantong kolostomy, terdapat luka jahitan post pullthrough.
4. Dalam perencanaan untuk mengatasi masalah An. R ini dibuat intervensi yang disesuaikan dengan kondisi klien dan tujuan beserta indikator yang ingin dicapai berdasarkan waktu yang ditetapkan serta mengacu pada Nursing Outcome Classifikation (NOC) dan Nursing intervention Classifikation (NIC), tetapi tidak semua kriteria hasil yang ada di NOC dan intervensi yang ada di NIC dapat mengatasi untukmasalah kasus klien dan penulis hanya mencantumkan NOC dan NIC yang dapat mengatasi kasus klien. Pada saat melakukan perencanaan penulis mengalami kesulitan yang mana penulis tidak bisa melaksanakan intervensi semua yang telah direncanakan karena adanya keterbatasan alat untuk melakukan intervensi tersebut.
5. Pada tahap pelaksanaan penulis melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan intervensi yang telah dibuat disesuaikan dengan kondisi klien, kemampuan perawat dan keadaan ruangan dengan melibatkan klien dan keluarga klien serta tim kesehatan yang lainnya. Perawatan pada klien dengan hirsprung harus ditunjang juga dengan pemberian diet makanan yang sesuai dengan keadaan lingkungan yang sehat, baik ketika di rumah sakit maupun setelah pulang ke rumah sehingga penulis memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga agar dapat melakukan upaya prefentif di rumah.
6. Setelah dilakukan intervensi perlu adanya evaluasi dengan tujuan untuk mengukur keberhasilan yang telah dicapai dan dibuatlah catatan perkembangan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan sehingga perkembangan kesehatan klien dapat teratasi dan dapat terpantau. Serta pada kasus yang penulis angkat ada masalah yang teratasi sebanyak empat diagnosa sedangkan masalah teratasi sebagian sebanyak satu diagnosa. Adapun masalah yang teratasi adalah nyeri akut teratasi pada hari ke lima saat penulis melakukan asuhan keperawatan, kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, mual, kurang perawatan diri teratasi pada hari ke empat dan masalah yang teratasi sebagian adalah resiko infeksi bisa terjadi dimana saja tidak hanya di Rumah Sakit saja tetapi di rumah juga bisa terjadi infeksi.

B. REKOMENDASI
Dalam rangka meningkatkan pelayanan yang diberikan kepada klien, ada beberapa rekomendasi yang ingin penulis sampaikan setelah melaksanakan ujian praktek tahap akhir diantaranya adalah:
A. Permasalahan pada klien dengan penyakit hirsprung dapat menimbulkan banyak masalah pada sistem tubuh lain sehingga dalam menggunakan pengkajian harus komprehensif dan data- data yang diperoleh harus di validasi kepada klien dan keluarga. Pemeriksaan fisik juga harus dilakukan dengan lengkap dan dengan tekhnik yang benar sehingga diagnosa keperawatan yang di buat akurat.
B. Dalam pembuatan perencanaan tidak hanya melihat teori yang telah ada untuk mencapai tujuan tetapi harus dilihat pula kondisi dan sarana yang ada di lahan praktek. Klien dan keluarga juga harus dilibatkan dalam membuat perencanaan.
C. Pelaksanaan tindakan keperawatan harus melibatkan semua unsur yang ada diruangan baik itu perawat lain maupun tim kesehatan lain sehingga kondisi klien mendapat perawatan maksimal.
D. Pendokumentasian asuhan keperawatan juga harus dilakukan dengan benar dan akurat sehingga perkembangan kesehatan klien dapat dievaluasi dan dilakukan jika belum tercapai.
E. Peralatan yang tersedia hendaknya difasilitasi terhadap kebutuhan klien, sehingga dapat mempermudah dalam memberikan intervensi dalam asuhan keperawata.

0 komentar:

Poskan Komentar

Stats Button

Visitors

free counters
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Chat Box

Pengikut

 
Ners. Design by Wpthemedesigner. Converted To Blogger Template By Anshul Tested by Blogger Templates.