Transportasi Zat Melintasi Membran
Proses keluar masuknya bahan/zat dari dan kedalam sel, atau disebut juga transportasi zat ada yang berlangsung dengan cara mengikuti aliran perbedaan konsentrasi, yaitu dari konsentrasio tiggi ke konsentrasi rendah. Transportasi zat seperti itu disebut transportasi pasif. Transportasi pasif tidak membutuhkan energi. Selain dengan cara mengikuti aliran perbedaan konsentrasi, transportasi zat juga berlangsung dengan car melawan aliran perbedaan konsentrasi. Transportasi yang demikian itu dinamakan transportasi aktif. Dalam transportasi aktif dibutuhkan energi dalam bentuk Atp untuk melawan aliran perbedaan konsentrasi. Transportasi pasif meliputi proses difusi dan osmosis, sedangkan transportasi aktif meliputi proses transportasi aktif, endositosis, dan eksositosis.
RENIN
Renin adalah suatu hormon yang dikeluarkan oleh ginjal sebagai respons terhadap penurunan tekanan darah atau penurunan konsentrasi natrium plasma. Sel-sel yang membentuk dan mengeluarkan rennin, dan mengontrol pelepasannya, adalah sekelompok sel nefron yang disebut apparatus jukstaglomerulus (JG). Kelompok sel ini mencakup sel-sel otot polos arteriol aferen dan sel-sel macula densa. Sel-sel otot polos mensintesis rennin dan berfungsi sebagai baroreseptor untuk memantau tekanan darah. Sel-sel macula densa adalah bagian dari pars asendens nefron. Sel-sel ini memantau konsentrasi natrium plasma. Sel-sel macula densa dan sel-sel arteri aferen terletak berdekatan satu sama lain di titik di mana pars asendens tubulus distalis hamper menyentuh glomerulus.
Apabila tekanan darah turun, maka sel-sel otot polos meningkatkan pelepasan reninnya. Apabila tekanan darah naik, maka sel-sel mengurangi pelepasan reninnya. Apabila kadar kadar natrium plasma berkurang, maka sel-sel macula densa memberi sinyal kepada sel-sel otot polos untuk menurunkan pelepasan renin.
Saraf simpatis juga merangsan apparatus JG untuk mengeluarkan renin. Dengan demikian, penurunan tekanan darah menyebabkan peningkatan renin baik secara langsung melalui baroreseptor JG, dan tidak langsung, melalui saraf simpatis.
Setelah dikeluarkan, renin beredar dalam darah dan bekerja dengan mengkatalisis penguraian suatu protein kecil yaitu, angiotensinogen, menjadi angiotensin I suatu protein yang terdiri dari 10 asam amino. Angiotensinogen dihasilkan oleh hati dan konsentrasinya di dalam darah tinggi. Dengan demikian, pelepasan renin adalah langkah penentu kecepatan reaksi. Perubahan angiotensinogen menjadi angiotensin I berlangsung di seluruh plasma, tetapi terutama dikapiler-kapiler paru. Angiotensin I secara cepat bereaksi dengan enzim lain yang sudah ada di dalam darah, enzim pengubah-angiotensin (angiotensin-converting enzyme, ACE). ACE menguraikan angiotensin I menjadi angiotensin II sebuah peptida 8 asam amino.
ANGIOTENSIN II
Angiotensi II adalah vasokonstriktor yang bekerja pada seluruh system vaskular untuk meningkatkan kontraksi otot polos sehingga terjadi penurunan garis tengah pembuluh dan peningkatan resistensi perifer total (TPR). Peningkatan TPR secara langsung meningkatkan tekanan darah sistemik. Angiotensin II juga merupakan suatu hormone kkuat yang beredar dalam darah ke kelenjar adrenal, menyebabkan sintesin hormone mineralokortikoid, aldosteron.
ALDOSTERON
Aldosteron beredar dalam darah dan berikatan dengan sel-sel duktus pengumpul di korteks ginjal. Pengikatan dengan aldosteron menyebabkan peningkatan reabsorbsi natrium dari filtrate urin dan menyebabkan natrium masuk kembali ke kapiler peritubulus. Peningkatan reabsorbsi natrium menyebabkan peningkatan reabsorbsi air sehingga volume plasma meningkat. Peningkatan volume plasma akan meningkatkan aliran balikvena ke jantung sehingga volume sekuncup dan curah jantung meningkat,. Peningkatan curah jantung, seperti peningkatan TPR, secara langsung meningkatkan tekanan darah sistemik.
Rangsangan lain untuk pelepasan aldosteron, selain angiotensin II, adalah kadar kalium plasma yang tinggi dan suatu hormone hipofisis anterior, hormon adrenokortikotropik (ACTH). Selain mempengaruhi reabsorpsi natrium, aldosteron juga merangsang sekresi (dan dengan demikian ekskresi) kalium dari duktus pengumpul di korteks ginjal ke dalam filtrat urin.
RESPONS RENIN-ANGIOTENSIN-ALDOSTERON TERHADAP PERUBAHAN TEKANAN DARAH
Apabila terjadi penurunan tekanan darah, maka sel-sel JG melepaskan renin, yang pada gilirannya menyebabkan peningkatan angiotensin II. Angiotensin II menyebabkan konstriksi arteriol-arteriol di seluruh tubuh, termasuk arteriol aferen dan eferen. Hal ini menyebabkan peningkatan resistensi perifer total dan pemulihan tekanan darah ke tingkat normal. Aliran darah ginjal berkurang, yang menyebabkan produksi urin menurun. Hal ii ikut membantu meningkatkan volume plasma dan tekanan darah.
Hal yang sebaliknya akan terjadi apabila tekanan darah meningkat. Apabila tekanan darah meningkat, maka pengeluaran renin berkurang dan kadar angiotensin II turun. Hal ini menyebabkan dilatasi arteriol-arteriol sestemik, penurunan resistensi total, dan penurunan tekanan darah kembali ke tingkat normal. Penurunan angiotensin II menyebabkan arteriol aferen dan eferen melemas sehingga terjadi peningkatan aliran darah ginjal dan pengeluaran urin, yang berfungsi untuk menurunkan tekanan darah.
RENIN-ANGIOTENSIN-ALDOSTERON TERHADAP PENURUNAN NATRIUM
Rangsangan kedua yang menyebabkan pelepasan renin adalah konsentrasi natrium plasma. Penurunan natrium di dalam cairan tubulus yang melewati sel-sel makula densa akan menyebabkan peningkatan pengeluaran renin. Peningkatan renin menyebabkan peningkatan angiotensin II, yang merangsang sintesis aldosteron yang dengan demikian meningkatkan reabsorbsi natrium. Hal ini menurunkan rangsangan untuk pelepasan renin lebih lanjut. Hal yang sebaliknya terjadi apabila terjadi peningkatan natrium plasma yang melewati sel-sel makula densa.

PROSES DIFUSI
Difusi merupakan pergerakan atau perpindahan partikel atau molekul suatu zat (padat, cair, gas) dari tempat berkonsentrasi tinggi ke tempat yang berkonsentrasi rendah, baik melewati mmbran ataupun tidak. Difusi termasuk proses transportasi yang tidk memerlukan energi atu disebut transportasi pasif. Kekuatan yang mendorong terjadinya proses difusi adalah energi yang berasal dari gerak acak partikel atau molekul yang berdifusi.
Syarat suatu partikel atau molekul dapat melewati membrane sel dengan cara difusi adalah:
1.Partikel atau molekul tersebut merupakan partikel atau molekul sederhana
2.Berukuran kecil
3.Dapat larut dalam air ataupun lemak
Jika cairan di sekeliling sel (ekstraselluler) berkonsentrasi lebih tinggi daripada konsentrasi cairan di dalam sel (intraselluler), secara otomatis molekul-molekul dari saluran ekstraselluler akan berdifusi masuk ke dalam sel. Demikian pula sebaliknya. Molekul-molekul atau partikel-partikel yang dibawa masuk kedalam sel tidak dapat ditimbun.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan difusi :
1.Perbedaan Konsentrasi
Makin besar perbedaan konsentrasi antara dua bagian, makin besar proses difusi yang terjadi.
2.Jarak Tempat Berlangsungnya Difusi
Makin dekat jarak tempat terjadinya difusi, makin cepat proses difusi yang berlangsung.
3.Area Tempat Berlangsungnya Difusi
Makin luas area difusi makin cepat proses difusi
4.StrukturTempat Berlangsungnya Difusi
Adanya pori-pori pada membran (sekat) meningkatkan proses difusi. Makin banyak jumlah pori dan makin besar ukuran pori, makin meningkatkan proses difusi..
5.Ukuran dan Tipe Molekul Yang Berdifusi
Molekul-molekul berukuran kecil (misalnya, oksigen), berdifusi lebih cepat daripada molekul-molekul berukuran besar (misalnya, karbon dioksida)
Molekul-molekul yang larut dalam bahan-bahan penyusn membran, berdifusi lebih cepat. Misalnya, molekul-molekul yag larut dalam berdifusi lebih cepat daripada molekul-molekul yang tidak larut dalam air.

Pengaruh Denyut Jantung
Perubahan-perubahan dalam tekanan atrium ditransmisikan ke vena-vena besar untuk menimbulkan gelombang a, c, dan v pada kurva tekanan denyut. Tekanan atrium turun Dengan tajam waktu fase ejeksi sistolik ventrikel sebab katup AV sitarik kebawah, meningkatkan kapasitas atrium. Kerja ini menghisap darah masuk atrium waktu sistolik yang banyak membanntu terhadap venous return, khususnya pada frekuensi jantung yang cepat.
Dekat dengan jantung, aliran vena berdenyut. Bila frekuensi jantung lambat, ditemukan 2 puncak aliran: satu waktu sistolik ventrikel, desebabkan karena penarikan kebawah katup AV: dan satunya pada awal diastolik, waktu masa pengisian cepat ventrikel.
Pompa Otot
Pada tungkai, vena-vena dikelilingi oleh otot rangka, dan kontraksi otot-otot ini waktu kerja menekan vena-vena. Pulsasi arteri yang berdekatan juga dapat menekan vena-vena. Karena katup-katup vena mencegah aliran balik, darah mengalir ke arah jantung. Waktu berdiri tenang, bila pengaruh gravitasi bekerja sepenuhnya, tekanan vena pada sendi kaki adalah 85-90 mmHg. Pengumpulan darah dalam vena-vena tungkai mengurangi venous return, dengan akibat curah jantung menurun kadan-kadang penurunan ini sampai di suatu titik dimana terjadi pingsan. Kontraksi ritmis otot-otot tungkai waktu orang sedang berdiri membantu merendahkan tekanan vena dalam tungkai sampai kurang dari 30 mmHg dengan mendorong darah ke arah jantung. Pergerakan dara ke arah jantung ini menurun pada penderita vena varikosa, dimana katup-katupnya tidak kompeten, kontraksi otot akan terus menimbulkan dasar pergerakan darah menuju ke jantung sebab resistensi vena-vena besar yang menuju ke jantung lebih kecil daripada pembuluh-pembuluh kecil yang menjauhi jantung.

OTOT KERANGKA
Otot kerangka disusun dari serabut-serabut otot yang merupakan “unsur-unsur bangunan” sistemperototan seperti halnya neuron merupakan unsure bangunan bagi system persarafan. Sebagian besar otot kerangka berasal dan berakhir pada urat (otot tendon), dan seraut-serabut otot tersusun berjajar antara ujung-ujung sehingga kekuatan kontraksi dan unit-unit berjumlah.
Tiap-tiap serabut otot adalah satu sel tunggal, berinti banyak, berbentuk panjang dan silindrik. Tidak terdapat jembatan sinistium antara sel-sel.
Serabut otot tersusun dari fibril-fibril dan fibril dapat dipisah-pisahkan dalam filamen-filamen. Filamen-filamen terdiri dari berbagai protein kontraktil.
Otot mengandung protein myosin (berat molekul 460.000), aktin (berat molekul 43.000), tropomiosin (berat molekul 70.000), dan troponin. Troponin terdiri atas 3 subunit, troponin I, troponin T, dan troponin C. Ketiga subunit mempunyai berat molekul yang berkkisar dari 18.000 sampai 35.000 .
Hukum Laplace
Munkin suatu hal yang mengherankan bahwa struktur seperti dinding tipis dan lembut seperti kapiler tidak mudah robek. Alasan utama atas kekebalan relatifnya adalah diameternya yang kecil. Dalam hal ini efek proteksi ukuran yang kecil adalah suatu contoh kerja dari hukum laplace, Suatu prinsip fisika yang penting dengan beberapa pemakaian lain dalam fisiologi. Hukum ini mengemukakan bahwa tekanan distensi (P) pada obyek berongga yang diregangkan adalah sama dengan tegangan dalam dinding (T) dibagi oleh 2 jaringan kelengkungan utama dari obyek (R1 dan R2):
P = T (1/R1 + 1/R2)
Pada persamaan, P sebenarnya adalah tekanan transmural, tekanan pada salah satu dinding dikurangi dengan tekanan pada sisi lainnya. T dinyatakan dalam dyne/cm dan R1 dan R2 dalam cm, sehingga P dinyatakan dalam dyne/cm2. Pada lingkaran, R1 = R2, sehingga
P = 2 T/R
Pada silinder seperti pembuluh darah, salahsatu jari-jarinya tidak terhingga, sehingga
P = T/R
Akibatny, makin kecil jari-jari pembuluh darah, makin kurang tegangan dalam dinding yang diperlukan untuk mengimbangi tekanan distens. Pada aorta kira-kira adalah 170.000 dyne/cm, dan pada vena cava kira-kira 21.000 dyne/cm, tetapi dalam kapiler, kira-kira 16 dyne/cm.
Hukum laplace juga memperjelas sifat yang merugikan dari jantung yang mengalami dilatasi. Bila jari-jari rongga jantung meningkat, Makin besar ketegangan yang harus ditimbulkan dalam miokardium untuk menghasilkan tekanan yang diperlukan, akibatnya jantung yang dilatasi harus melakukan kerja yang lebih besar daripada jantung yang tidak dilatasi. Dalam hal paru-paru, jari-jari kelengkungan alveoli menjadi lebih kecil waktu ekspirasi, dan struktur ini akan cenderung kolap disebabkan karena tarikan tegangan permukaan bila tegangan tidak dikurangi oleh zat yang menurunkn tegangan permukaan, surfaktan.

HUBUNGAN INTERSEL
Dua jenis hubungan antar sel-sel yang membentuk jaringan, hubungan yang mengikatkan sel-sel sama lain dan dengan jaringan sekitarnya, dan hubungan yang memungkinkan pemindahan ion-ion dan molekul-molekul lain dari satu se l ke sel lainnya. Hubungan yang mengikatkan sel satu sam lain dan memberikan kekuatan dan kestabilan jaringan adalah tight junction dan desmosom. Desmosom dibagi lagi menjadi bell desmosome, spot desmosome, dan hemi desmosome. Hubungan dimana molekul-moekul dipindahkan adalah gapjunction.
Tight junction sifatnya mengelilingi pinggir apical sel-sel epitel seperti mukosa usus, dinding tubulus ginjal, dan plexus koroideus. Mereka membentuk tonjolan protein separoh dari sel lain yang melekat demikian kuat pada hubungan sel, sehingga mereka hamper menyumbat ruang antar sel-sel. Selain mengikat sel-sel mereka membentuk sawar terhadap pergerakan ion-ion da solute dari satu sisi epitel menuju ke sisi lain. Beberapa epitel lebih mudah dilewati solute daripada epitel lain, tetapi tight junction pada semua epitel memegang peranan penting dalam fungsi fisiologis epitel.
Belt desmosome dan spot desmosome ditandai oleh penebalan membarn yang berhadapan darimasing-masing sel melekat fibril-fibril sitoplasmik, sebagian sejajar dengan membrane dan lainnya memancar menjauhinya.

Aliran Limfe
Aliran limfe disebabkan karena pergerakan otot rangka, tekanan intratoraks yang negative selama inspirasi, efek sedotan kecepatan aliran darah yang tinggi dalam vena-vena dimana saluran limfe yang besar. Karen pembuluh limfe mempunyai katup-katup yang mencegah aliran-balik, kontraksi otot rangka mendorong limfe kearah jantung. Dengan arteri dekat pembuluh limfe mungkin mempunyai efek yang sama. Akan tetapi, kontraksi dinding duktus limfatikus penting, dan kecepatan kntraksi ini meningkat sebanding dengan volume limfe dalam pembuluh. Terdapat bukti bahwa kontraksi merupakan faktor penting untuk mendorong limfe.
Salah satu faktor risiko pada penyakit jantung koroner adalah kebiasaan makan. Bertambah makmur kehidupan penduduk suatu negara, maka konsumsi lemak akan naik dengan tajam terutama lemak yang berasal dari hewan seperti susu, telur, daging, dan sebagainya.
Lemak hewan ini justru mengandung asam lemak jenuh dalam kadar yang tinggi. Sedangkan protein yang berasal dari nabati mengandung asam lemak tak jenuh. Secara hipotesis, terjadinya penyakit jantung koroner dalam kaitannya dengan konsumsi lemak.
Tentu saja ada faktor-faktor lain yang turut berperan dalam perkembangan penyakit jantung koroner tersebut, yaitu adanya penyakit lain, tingkat konsumsi, kolesterol, dan sebagainya. Sejalan dengan kenaikan konsumsi lemak jenuh, apabila tidak terjadi hambatan aliran darah yang menyebabkan jaringan otot jantung menderita kekurangan oksigen (miocardian anoxia). Akan tetapi apabila beban kerja jantung terlalu berat, angina dapat terjadi, misalnya jika penderita makan terlalu kenyang. Oleh karena itu, dalam pengaturan makanan penderita penyakit jantung koroner, pemberian makanan dibagi menjadi beberapa kali dalam porsi kecil. Makan dalam jumlah yang terlalu banyak harus dihindari.
Karena penyakit jantung koroner didahului oleh adanya aterosklerosis, maka dasar-dasar perawatan diet bagi penderita aterosklerosis juga berlaku bagi perawatan diet penderita penyakit jantung koroner.
Berikut ini beberapa hal harus diperhatikan dalam perawatan diet penderita jantung koroner :
1. Pembatasan kandungan kalori dalam diet perlu dilakukan lebih-lebih jika penderita tergolong obesitas atau berat badannya melebihi berat badan ideal. Penderita penyakit jantung koroner sebaiknya mempunyai berat badan sedikit di bawah berat badan ideal.
2. Penggunaan lemak jenuh harus dihindarkan, sedangkan lemak tak jenuh berganda (polyunsatrated fatty acid) yang dapat menurunkan kadar kolesterol darah, dapat diperbanyak untuk menggantikan lemak jenuh.
3. Pemakaian gula dalam diet sehari-hari hendaknya tidak berlebihan, karena konsumsi gula yang tinggi dapat mempermudah terjadinya aterosklerosis.
4. Untuk mengurangi beban kerja jantung, porsi makanan sebaiknya kecil. Agar tubuh mendapatkan semua zat gizi yang diperlukan dalam jumlah yang cukup, frekuensi pemberian makanan hendaknya lebih sering.
5. Pengurangan garam perlu dilakukan apabila penderita menunjukkan tanda-tanda kenaikan tekanan darah atau terlihat adanya edema.
6. Bahan makanan yang dapat menimbulkan gas dalam lambung seperti kol, lobak, durian, dan sebagainya sebaiknya tidak diberikan.
7. Bumbu-bumbu yang dapat menimbulkan rangsangan seperti lombok, merica, dan sebagainya hendaknya dihindarkan.
8. Penderita tidak diberi minuman berupa kopi, teh kental, atau minuman yang mengandung soda (soft drink) dan alkohol.
9. Makanan atau kue yang terlalu manis dan makanan berlemak atau dimasak dengan lemak hendaknya tidak diberikan.
10. Disamping perawatan dietetik, juga perlu dilakukan upaya penyembuhan yang lain, terutama mengurangi berbagai faktor risiko, seperti merokok, tekanan emosional, dan sebagainya. Juga olah raga fisik perlu dilakukan untuk menjaga agar tidak terjadi kenaikan berat badan.

PENYAKIT JANTUNG
DeDefinisi : merupakan penyakit dimana jantung mengalami gangguan dalam definisi : merupakan penyakit dimana jantung mengalami gangguan dalam kerjanya memompakan darah ke seluruh tubuh.
Penyebab :
• Penyakit jantung ini bisa saja terjadi karena bawaan lahir, artinya penderita dilahirkan dengan jantung yang tidak normal.
• Penyebab lain yang sering terjadi dewasa ini adalah karena banyaknya kadar kolesterol atau lemak dalam darah sehingga menyebabkan penyumbatan pembuluh darah jantung, seperti dapat dilihat pada gambar.
• Faktor lain adalah kegemukan, dimana lemak di sekitar jantung menghimpitnya sehingga jantung tidak bisa melakukan gerakan memompa.
Gejala : Biasanya pada penderita sering mengalami sesak, jantung sering berdebar-debar, dan terasa nyeri di dada.
Pengobatan Medis : Pengobatan yang biasa diberikan dengan terapi untuk memperlancar aliran darah dengan obat-obatan, atau yang sudah parah harus dioperasi. Kadang diperlukan pencangkokan jantung bila jantung sudah disfungsi.
